Gerhana Bulan Total Kembali Terjadi di Indonesia

Jakarta, Lini Indonesia – Masyarakat Indonesia dapat menikmati fenomena langka yang hanya dapat terjadi setiap 2.5 tahun sekali. Fenomena tersebut dinamakan gerhana bulan total atau bisa juga disebut dengan total lunar eclipse.

Namun, melansir dari unggahan tiktok akun @clarissachristiyan, ada beberapa wilayah yang tidak dapat menikmati fenomena ini. Beberapa diantaranya adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu.

Bacaan Lainnya

Gerhana bulan total terjadi pada hari ini, Selasa (8/11/2022). Fenomena ini terjadi pada pukul 17:59 WIB selama kurang lebih 30 menit.

Fenomena ini merupakan gerhana bulan terakhir di tahun 2022. Karena gerhana bulan selanjutnya diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025 mendatang.

Mengutip dari unggahan channel youtube Chuck’s Astrophotography, sebelum gerhana bulan total terjadi terdapat beberapa fase yang harus dilalui.

Berikut fase sebelum gerhana bulan terjadi.

15:02 WIB fase awal penumbra
16:09 WIB fase awal sebagian
17:16 WIB fase awal total
17:59 WIB puncak gerhana (gerhana bulan total)
20:57 WIB akhir total

Gerhana bulan total terjadi karena posisi matahari, bumi, dan bulan sejajar membentuk garis lurus. Sehingga sinar matahari ke bulan akan terhalangi oleh bumi. Dan menyebabkan bulan berada di wilayah tergelap bayangan bumi atau umbra.

Fenomena ini membuat bulan terlihat merah atau oranye. Hal ini disebabkan adanya pembelokan cahaya oleh atmosfer bumi atau biasa disebut dengan hamburan Rayleigh.

Peristiwa ini pun dibenarkan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muzli. Dirinya menyampaikan bahwa gerhana bulan total ini disebut sebagai blood moon saat puncaknya gerhana bulan, yaitu di mana bulan berada di tengah-tengah wilayah paling gelap atau umbra. Kenapa bisa kemerah-merahan?

“Sebetulnya memang cahaya matahari tidak masuk ke sana tapi di alam semesta kan mungkin tetap ada cahaya sehingga masih ada warna kemerahan yang diamati pada permukaan bulan,” ujarnya

Ia juga menambahkan bahwa gerhana bulan ini dapat dinikmati dengan mata telanjang dan tidak berbahaya.

Namun, perlu menjadi catatan, bahwa setiap bulan baru atau gerhana akan memicu terjadinya pasang naik air laut. Di mana tingkat pasang air akan lebih tinggi dibandingkan hari biasanya.

Hal ini dikhawatirkan akan memicu terjadinya banjir di daerah pesisir. Dengan demikian, masyarakat yang tinggal di daerah pesisir harus berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan. (RM)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *