Jakarta, Lini IndoneaiaPeta kekuatan mata uang global kembali berubah. Berdasarkan data perdagangan terbaru, Rial Iran kini menempati posisi teratas sebagai mata uang paling lemah di dunia, menggeser Pound Lebanon yang sebelumnya berada di peringkat pertama. Di bawahnya, menyusul mata uang dari negara berkembang dan frontier market lain, termasuk Dong Vietnam.
Pada dasarnya, mata uang berfungsi sebagai alat tukar dan fondasi utama aktivitas ekonomi suatu negara. Namun di pasar global, nilainya tidak berdiri sendiri.
Hampir seluruh mata uang dunia diukur dengan pembanding utama, yakni Dolar Amerika Serikat (AS). Dominasi dolar membuat banyak mata uang negara berkembang tampak “murah” secara nominal, meski kondisi ekonominya tidak selalu bermasalah.
Pelemahan mata uang umumnya dipicu berbagai faktor, seperti inflasi ekstrem, ketidakstabilan politik, rendahnya kepercayaan investor, hingga tekanan geopolitik berupa sanksi internasional.
Berikut gambaran mata uang terlemah dunia berdasarkan perbandingan nilai US$1 terhadap mata uang masing-masing negara.
Rial Iran Terpuruk di Puncak
Menurut data pasar terkini, Rial Iran (IRR) mencatatkan nilai tukar yang sangat rendah, yakni sekitar 1.092.500 per Dolar AS. Angka ini menempatkan mata uang milik Iran sebagai yang terlemah di dunia saat ini.
Kondisi tersebut merupakan akumulasi tekanan eksternal dan persoalan internal. Dari sisi geopolitik, Iran terus dibelit sanksi ekonomi internasional terkait program nuklir dan konflik regional di Timur Tengah. Pembatasan ini menutup akses Iran ke sistem keuangan global serta menghambat ekspor minyak, sektor vital bagi pendapatan negara.
Di dalam negeri, inflasi tinggi yang berlangsung lama, ditambah gejolak sosial, memperparah situasi. Kebijakan fiskal yang mengandalkan pencetakan uang untuk menutup defisit justru mempercepat penurunan nilai tukar dan memangkas daya beli masyarakat.
Lebanon Masih Bergulat dengan Krisis
Di posisi kedua, Pound Lebanon (LBP) diperdagangkan di kisaran 89.782 per Dolar AS. Krisis mata uang di Lebanon bukanlah fenomena baru. Selama puluhan tahun, kebijakan ekonomi yang rapuh dan tata kelola sektor perbankan yang buruk menjadi akar masalah.
Bank Dunia bahkan pernah menilai krisis Lebanon sebagai salah satu yang terparah sejak abad ke-19. Situasi ini diperburuk oleh ledakan besar di Pelabuhan Beirut pada 2020 serta kebuntuan politik yang menghambat reformasi. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap mata uang lokal runtuh dan transaksi sehari-hari semakin bergantung pada dolar AS.
Dong Vietnam Lemah, Tapi Terkendali
Berbeda dari dua negara sebelumnya, Dong Vietnam (VND) yang berada di peringkat ketiga dengan nilai sekitar 26.274 per Dolar AS tidak mencerminkan krisis ekonomi. Nilai rendah Dong justru merupakan bagian dari strategi pemerintah Vietnam untuk menjaga daya saing ekspor.
Dengan kurs yang relatif lemah, produk Vietnam menjadi lebih kompetitif di pasar global. Strategi ini terbukti efektif, menjadikan Vietnam salah satu basis manufaktur utama di Asia Tenggara dan magnet bagi investasi asing langsung.
Rupiah Masuk Enam Besar, Tapi Fundamental Stabil
Dalam daftar yang sama, Rupiah Indonesia (IDR) juga masuk radar sebagai salah satu mata uang dengan nilai nominal rendah. Rupiah tercatat berada di level Rp 16.874 per Dolar AS, menempatkannya di posisi keenam terlemah setelah Iran, Lebanon, Vietnam, Sierra Leone, dan Laos.
Meski angka nominalnya terlihat besar, kondisi Rupiah tidak bisa disamakan dengan Iran atau Lebanon. Nilai tersebut lebih dipengaruhi oleh sejarah denominasi dan rezim nilai tukar yang dianut Indonesia. Secara fundamental, perekonomian Indonesia masih mencatat pertumbuhan yang solid dengan inflasi yang relatif terkendali.
Secara garis besar, sebutan “mata uang terlemah” tidak selalu berarti kondisi ekonomi suatu negara sedang runtuh. Ada negara yang sengaja menjaga nilai mata uangnya tetap rendah sebagai strategi ekonomi, seperti Vietnam.
Namun, pada negara lain, pelemahan nilai tukar justru menjadi tanda adanya masalah serius, mulai dari krisis ekonomi, instabilitas politik, hingga tekanan global yang belum teratasi.
10 Negara dengan nilai mata uang paling lemah di dunia:
- Iran
- Lebanon
- Vietnam
- Sierra Leone
- Laos
- Indonesia
- Uzbekistan
- Guinea
- Paraguay
- Madagaskar. (*)







