“Kami melihat dua realitas yang berbeda. Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,” ujar Albertus dalam keterangan tertulis, Sabtu, (14/02/2026.
Riset ini membagi responden ke dalam dua kategori. Kelompok pertama adalah Gold Star Planners, yakni individu yang telah mempersiapkan dana pensiun dengan baik. Sebanyak 48 persen dari kelompok ini menyatakan optimistis dan menantikan masa pensiun karena merasa kondisi keuangan mereka aman.
Sementara itu, kelompok kedua disebut Stalled Starters, yakni mereka yang cenderung menunda pensiun akibat keterbatasan finansial. Di kelompok ini, 20 persen responden mengaku merasa ragu bahkan pesimistis terhadap masa pensiun. Sebanyak 43 persen di antaranya menunda pensiun demi menanggung biaya pendidikan maupun kebutuhan hidup anak.
Temuan ini menegaskan pentingnya perencanaan pensiun yang dilakukan sejak dini. Tanpa strategi keuangan yang komprehensif, bekerja di usia lanjut berpotensi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan.(*)







