Surabaya, Lini Indonesia – Kabar heboh dimedsos usai warga net ramai-ramai mencari link video berdurasi 13 menit yang dikaitkan dengan narasi “teh pucuk” dan mahasiswi KKN di Lombok Timur. Topik ini menyebar cepat di TikTok, X (Twitter), hingga grup percakapan WhatsApp, Meski ramai diperbincangkan, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari institusi pendidikan, aparat penegak hukum, maupun media arus utama yang membenarkan klaim yang beredar. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi hoaks dan risiko keamanan digital.
Fenomena ini menunjukkan pola lama yang kembali berulang: judul sensasional, durasi spesifik, serta penyebaran tautan eksternal yang tidak jelas sumbernya.
Pola berita Viral
Saran Para pakar komunikasi digital menjelaskan bahwa penggunaan durasi tertentu seperti “13 menit” kerap dipakai untuk membangun kesan eksklusif. Dalam wawancara dengan Kompas.com, ia menyebut teknik ini sebagai curiosity trigger—cara memancing klik dengan detail yang terdengar konkret, meski belum tentu faktual.
Nama objek yang familiar di telinga publik juga sering dimanfaatkan agar topik cepat menyebar dan mudah masuk ke pencarian populer.
Belum Ada Sumber Terverifikasi
Hingga kini, tautan yang beredar sebagian besar dibagikan oleh akun anonim tanpa identitas jelas. Tidak ada rujukan ke sumber kredibel atau pernyataan resmi yang dapat diverifikasi.
Menurut Dewan Pers, media dan publik diimbau mengedepankan prinsip verifikasi serta asas praduga tak bersalah, terutama ketika informasi menyangkut individu atau kelompok tertentu.
Penyebaran informasi tanpa dasar yang jelas berpotensi merugikan banyak pihak dan dapat berimplikasi hukum.







