Jakarta, Lini Indonesia – Kabar duka menyelimuti Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (1/3). Informasi tersebut muncul setelah rangkaian serangan Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah titik di ibu kota Teheran, termasuk kompleks kediaman resmi Khamenei.
Mengutip laporan Reuters, ribuan warga turun ke jalan di berbagai kota untuk menyampaikan belasungkawa. Di Teheran, para pelayat memadati sejumlah lokasi sambil mengibarkan bendera Iran dan membawa potret Khamenei.
Suasana haru juga terlihat di Lapangan Enghelab serta di kompleks Makam Imam Reza di Masyhad, tempat warga berkumpul dan menggelar doa bersama.
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Selain itu, otoritas juga mengumumkan tujuh hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya pemimpin tertinggi tersebut.
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi kabar kematian Khamenei melalui akun Truth Social miliknya. Dalam pernyataannya, Trump menyebut peristiwa itu sebagai “keadilan” bagi rakyat Iran dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai “kejahatan besar”. Dalam pernyataan yang dikutip AFP, Garda Revolusi menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan hukuman tegas kepada pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab.
Melalui pesan yang diunggah di Telegram, Garda Revolusi juga mengklaim tengah menyiapkan operasi militer yang disebut sebagai “serangan paling ganas dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran”, yang ditujukan kepada Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat.
Situasi ini memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah, dengan ancaman eskalasi yang semakin meningkat pasca pengumuman tersebut.(*)







