Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya sentimen global, khususnya terkait konflik di kawasan Timur Tengah yang telah berlangsung selama sekitar satu pekan.
Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
Negara-negara di kawasan Asia turut merasakan dampaknya, mengingat sebagian besar memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap impor energi, khususnya minyak. Situasi ini semakin diperburuk oleh kebijakan Uni Emirat Arab dan Kuwait yang memangkas produksi minyak di tengah memanasnya konflik di kawasan tersebut.(*)







