Di sisi lain, sejumlah analis menilai pengangkatan Mojtaba Khamenei menunjukkan bahwa kelompok konservatif di Iran masih memegang kendali kuat atas struktur politik negara tersebut.
Mojtaba selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan kalangan ulama konservatif yang berpengaruh dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran.
Sementara itu, keputusan mengenai pemimpin baru Iran diambil oleh Dewan Ahli (Assembly of Experts), lembaga ulama yang memiliki kewenangan konstitusional untuk menunjuk pemimpin tertinggi negara tersebut. Pemilihan itu berlangsung hanya beberapa hari setelah wafatnya Ali Khamenei di tengah konflik regional yang terus memanas.
Pada akhirnya, Dewan Ahli secara resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pada 8 Maret 2026. Ia menjadi pemimpin tertinggi ketiga sejak berdirinya Republik Islam Iran setelah Revolusi 1979, menggantikan ayahnya yang sebelumnya memimpin negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.
Penunjukan Mojtaba Khamenei juga mencatatkan sejarah baru bagi Iran karena untuk pertama kalinya posisi pemimpin tertinggi berpindah langsung dari ayah kepada anak dalam sistem politik negara tersebut. (*)







