BGN juga telah melakukan penelusuran terhadap proses pengolahan, pengemasan, hingga pendistribusian makanan di SPPG Bantul Sedayu Argosari. Dari hasil evaluasi internal, seluruh proses dinyatakan berjalan sesuai prosedur sebelum makanan disalurkan kepada penerima manfaat.
Menurut Nanik, kesalahpahaman tersebut juga dipengaruhi oleh belum meratanya pemahaman masyarakat mengenai karakteristik olahan bandeng presto yang memang memiliki tampilan luar mirip ikan segar meskipun telah matang.
“Karena itu kami terus mendorong penguatan komunikasi di lapangan agar setiap menu yang didistribusikan dalam program MBG juga disertai informasi yang jelas kepada penerima manfaat maupun pihak sekolah,” paparnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Bantul Sedayu Argosari Muhammad Labib Jalali Khumaidi menjelaskan pihaknya selama ini juga menyertakan petunjuk penyimpanan dan anjuran konsumsi dalam setiap distribusi makanan.
“Dalam setiap pendistribusian kami selalu melengkapi paket makanan dengan petunjuk penyimpanan dan konsumsi agar makanan dapat dinikmati dengan aman serta dipahami oleh penerima manfaat,” pungkasnya.(*)







