Malang, Lini Indonesia.com – Serikat Pekerja Kampus (SPK) Malang mendesak pemerintah memberikan perlindungan nyata bagi pembela hak asasi manusia (HAM) menyusul insiden kekerasan yang menimpa aktivis Andri Yunus. SPK menilai tindakan tersebut bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola kekerasan berulang yang mengancam ruang sipil.
Pendiri SPK sekaligus akademisi Hukum Tata Negara Universitas Brawijaya, Dr. Dhia Al Uyun, menegaskan bahwa kekerasan terhadap pembela HAM tidak boleh dipandang sebagai persoalan individu semata. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi indikator lemahnya perlindungan negara terhadap para pejuang kemanusiaan.
“Langkah konkret yang harus kita ambil adalah pola ‘kawan jaga kawan’. Kita harus membagi peran agar setiap pendapat tidak hanya menyasar satu individu, sehingga risiko serangan bisa diminimalisir,” ujar Dhia Al Uyun saat dihubungi, Selasa (17/3/2026).
Ia menambahkan, perlindungan terhadap pembela HAM juga perlu dilihat dalam perspektif ketenagakerjaan, termasuk jaminan kesehatan dan keamanan kerja.
Dhia menilai, hingga saat ini negara belum sepenuhnya hadir dalam memberikan perlindungan menyeluruh bagi para aktivis di lapangan.
“Penting bagi kita untuk memastikan para pembela HAM dapat mengakses jaminan kesehatan dan perlindungan dari situasi darurat. Ini adalah bagian dari hak dasar yang harus dipenuhi,” katanya.
Selain itu, SPK mendorong penguatan solidaritas antaraktivis melalui sistem komunikasi yang cepat dan terkoordinasi. Upaya ini dinilai penting untuk memitigasi potensi serangan, terutama ketika aktivis berada dalam kondisi rentan.
Melalui penguatan organisasi, SPK berkomitmen menjadikan serikat sebagai ruang perlindungan kolektif.
Solidaritas lintas organisasi diharapkan mampu memperkuat posisi tawar pembela HAM dalam menuntut keadilan sekaligus mendesak negara agar hadir memberikan jaminan keamanan.
“Masalah ini menunjukkan masih minimnya pemenuhan hak keamanan kerja bagi pekerja HAM. Oleh karena itu, berserikat adalah langkah penting sebagai pertahanan kolektif kita semua,” pungkas Dhia Al Uyun.(*)






