Jakarta, Lini Indonesia – Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, dilanda bencana tanah bergerak yang memicu kerusakan parah rumah warga dan fasilitas umum sejak awal Februari 2026.
Fenomena ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari berturut-turut, sehingga kondisi tanah menjadi jenuh air dan tidak stabil.
Akibatnya, pada Senin (2/2/2026) sekitar pukul 19.00 WIB, pergerakan tanah mulai terlihat melalui munculnya retakan di permukaan tanah di sejumlah titik permukiman dan lahan warga.
Seiring berjalannya malam, pergerakan tanah semakin intens. Pada Jumat dini hari (6/2/2026), fenomena tersebut mencapai puncaknya dan menyebabkan sejumlah bangunan di area Pondok Pesantren Al-Adalah roboh.
Bangunan yang terdampak antara lain Asrama Putra 1, menyusul asrama putri yang sebelumnya telah lebih dahulu runtuh akibat tanah yang tidak lagi mampu menopang struktur bangunan.
Peristiwa ambruknya asrama ini terekam dalam sejumlah video yang beredar di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan bangunan yang semula berdiri kokoh mendadak ambruk ketika tanah di bawahnya bergeser, menciptakan suasana mencekam bagi warga dan santri yang menyaksikan kejadian tersebut.
Dalam peristiwa tersebut, tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Namun, dampaknya tergolong signifikan. Sekitar 526 santri dan staf pondok pesantren segera dievakuasi dan dipindahkan ke bangunan lain yang dinilai lebih aman untuk menghindari risiko susulan, mengingat kondisi tanah di lokasi kejadian masih terus bergerak aktif.
Pengurus Pondok Pesantren Al-Adalah, Mohamad Furqon, menjelaskan bahwa tanda-tanda awal bencana sebenarnya sudah terlihat sejak Senin sore.
“Awalnya hanya retakan kecil di dinding sejak Senin sore, tapi kondisi terparah terjadi tengah malam. Tanahnya bergerak pelan, tapi dampaknya luar biasa,” ujar Furqon.
Tak hanya kompleks pondok pesantren yang terdampak, bencana tanah bergerak ini juga menyebabkan kerusakan berat pada ratusan rumah warga di sekitar lokasi. Data terbaru mencatat sebanyak 464 unit rumah mengalami kerusakan, sementara ribuan warga terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Menanggapi situasi tersebut, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, meninjau langsung lokasi pengungsian dan menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah.
“Sekarang prioritasnya adalah keselamatan warga, keselamatan para santri,” kata Gibran.(*)






