Jakarta, Lini Indonesia – Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Muslim. Selain menahan hawa nafsu, menjalankan ibadah ini memerlukan strategi khusus, terutama saat cuaca tidak bersahabat. Hal ini penting agar tubuh tetap sehat dan bugar meskipun kondisi perut sedang kosong.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSI Unisma, dr. Hardadi Airlangga, Sp.PD., menjelaskan terdapat beberapa kondisi yang perlu diperhatikan saat berpuasa di musim hujan. Menurutnya, beberapa penyakit tertentu rentan kambuh saat menjalankan ibadah puasa di tengah cuaca ekstrem.
Ia menyebutkan, pasien dengan riwayat diabetes melitus rentan mengalami kekambuhan. Kondisi ini dipicu oleh penurunan kadar gula darah yang terlalu rendah (hipoglikemia). Terutama pada musim hujan, tubuh membutuhkan energi lebih besar sehingga cadangan glukosa atau gula darah lebih cepat turun dibanding biasanya.
“Keluhan yang dirasakan jika kambuh biasanya pusing, rasa pegal di leher belakang, keluar keringat dingin, bahkan bisa sampai menyebabkan gemetar,” ujar dr. Hardadi. dikutip dari Times Indonesia
Ia menambahkan, apabila pasien tidak segera mendapatkan asupan karbohidrat dalam kondisi tersebut, kesadaran dapat menurun. Dr. Hardadi pun mengingatkan pemilik riwayat penyakit ini untuk rutin melakukan pengobatan dan kontrol.
Selain diabetes, kondisi umum yang dialami orang berpuasa adalah kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi. Di daerah sejuk seperti Malang, otak sering kali tidak terlalu merespons rasa haus meskipun tubuh tetap melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini berdampak pada pola buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK).
“BAB dan BAK jadi lebih sedikit, warna urine cenderung kuning tua kecokelatan,” imbuhnya.
Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar tetap menjaga hidrasi dengan minum minimal delapan gelas air setiap hari. Polanya adalah dua gelas saat berbuka, empat gelas pada malam hari, dan dua gelas saat sahur.
Lebih lanjut, dr. Hardadi memaparkan bahwa berpuasa di musim hujan dapat menurunkan kekebalan tubuh. Hal ini disebabkan oleh perubahan suhu yang tidak menentu serta kelembapan udara yang cukup tinggi, berkisar antara 75 persen hingga 98 persen.
Kondisi tersebut rawan memicu infeksi, terutama infeksi saluran pernapasan atas yang menyebabkan batuk dan pilek, hingga risiko infeksi virus DBD. Sebagai solusi, ia menyarankan konsumsi makanan tinggi serat, vitamin C, serta rutin melakukan olahraga ringan.
Bagi penderita alergi, paparan cuaca dingin yang tidak diantisipasi dapat memicu penyakit lebih serius seperti asma bronkiale, rinitis alergi, hingga rinitis vasomotor.
“Kuncinya adalah minum delapan gelas per hari, olahraga 30 menit, makan makanan berserat, mengandung vitamin, dan kaya protein,” pungkasnya. (*)







