Kilang Raksasa Saudi Aramco Tutup Usai Dihantam Drone Iran

Kilang Raksasa Saudi Aramco Tutup Usai Dihantam Drone Iran
Pemandangan umum menunjukkan fasilitas minyak Saudi Aramco di kota Dammam, 450 km sebelah timur ibu kota Saudi, Riyadh, 23 November 2007. (Foto: AFP)

Internasional, Lini indonesia – Bara konflik Timur Tengah kini resmi membakar urat nadi perekonomian global. Raksasa minyak negara Arab Saudi, Aramco, terpaksa menutup paksa kilang Ras Tanura pada Senin (2/3/2026) usai fasilitas vital tersebut menjadi target serangan pesawat nirawak (drone) yang diduga berasal dari Iran.

Insiden ini menandai eskalasi hari ketiga dari gelombang serangan balasan Teheran, menyusul operasi militer mematikan Amerika Serikat dan Israel terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Read More

Kompleks Ras Tanura yang terletak di pesisir Teluk Arab bukanlah kilang sembarangan. Fasilitas ini merupakan salah satu penyulingan terbesar di Timur Tengah dengan kapasitas produksi 550.000 barel per hari (bpd) sekaligus terminal ekspor minyak mentah paling krusial bagi Arab Saudi.

Cegat Drone dan Meroketnya Harga Minyak

Kementerian Pertahanan Arab Saudi melalui siaran Al Arabiya TV mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan mereka berhasil mencegat dua drone yang mengarah ke fasilitas tersebut. Meski demikian, serpihan drone memicu kebakaran berskala kecil.

“Penutupan Ras Tanura dilakukan murni sebagai langkah pencegahan. Situasi sepenuhnya terkendali dan tidak ada korban jiwa,” ungkap seorang sumber industri yang tidak disebutkan namanya dikutip dari Reuters.

Namun, kepanikan pasar tak bisa dibendung. Penutupan kilang Aramco ini terjadi bertepatan dengan lumpuhnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz—jalur nadi yang mengalirkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia—akibat serangkaian serangan kapal pada Minggu (1/3/2026). Imbasnya, harga minyak mentah berjangka Brent langsung meroket tajam sekitar 10 persen pada perdagangan Senin.

Ancaman Meluas ke Seluruh Teluk

Torbjorn Soltvedt, Analis Utama Timur Tengah di firma intelijen risiko Verisk Maplecroft, menilai serangan ini sebagai titik balik yang sangat berbahaya.

“Serangan terhadap kilang Ras Tanura menandai eskalasi yang signifikan. Infrastruktur energi Teluk kini jelas berada dalam bidikan Iran,” tegas Soltvedt. Ia juga memprediksi manuver Teheran ini justru akan mendorong Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya merapat ke poros operasi militer AS dan Israel.

Serangan ke jantung energi Saudi ini menambah panjang daftar target di kawasan Teluk. Dalam beberapa hari terakhir, gelombang serangan telah menghantam Abu Dhabi, Dubai, Doha, Manama, hingga pelabuhan komersial Duqm di Oman. Sebagai langkah antisipasi tambahan, sebagian besar produksi minyak di wilayah Kurdistan, Irak (yang mengekspor 200.000 bpd ke Turki), juga telah ditutup sejak akhir pekan lalu.

Ini bukan kali pertama benteng energi Arab Saudi diterobos. Pada September 2019, serangan drone dan rudal presisi ke fasilitas Abqaiq dan Khurais sempat melumpuhkan lebih dari separuh produksi minyak mentah kerajaan dan mengguncang pasar global. Pada 2021, Ras Tanura juga pernah menjadi sasaran milisi Houthi asal Yaman yang didukung Iran, dalam insiden yang disebut Riyadh sebagai “kegagalan penyerangan terhadap keamanan energi global.”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *