Jakarta, Lini Indonesia – Keluarga jurnalis Thoudy Badai masih menunggu kepastian kabar setelah relawan kemanusiaan asal Indonesia itu ditangkap militer Israel saat mengikuti pelayaran bantuan menuju Gaza. Sang ibu, Hani Hanifa Humanisa (56), mengungkapkan komunikasi terakhir dengan putranya terjadi pada Senin (18/5/2026) dini hari.
Menurut Hani, pesan terakhir diterima sekitar pukul 02.19 WIB ketika Thoudy mengabarkan kapal yang ditumpanginya telah memasuki wilayah perairan internasional dalam perjalanan dari Marmaris menuju Gaza.
“Itu kita masih kontak sampai terakhir kemarin hari Senin jam 02.19 WIB dan dia kirim pesan mengabarkan sudah sampai di perairan internasional yang berarti harusnya sudah aman,” ujarnya dikutip dari cnn.
Ia menuturkan komunikasi dengan anaknya selama misi berlangsung memang tidak dilakukan secara intens. Kontak biasanya hanya terjadi pada momen tertentu, seperti pergantian jadwal tugas atau saat keluarga menanyakan kondisi terkini selama perjalanan.
Hani mengatakan keluarga sebenarnya telah membahas berbagai risiko sebelum keberangkatan Thoudy. Dalam percakapan tersebut, mereka sempat mendiskusikan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi selama misi kemanusiaan berlangsung.
Ia mengaku awalnya sempat menolak memberikan izin ketika Thoudy mengikuti pelatihan persiapan di Tunisia. Kekhawatiran terhadap situasi konflik di Gaza menjadi alasan utama penolakan tersebut. Namun, setelah melihat kesungguhan dan tekad anaknya untuk ikut dalam misi kemanusiaan, keluarga akhirnya memberikan restu.
Menurut Hani, keputusan itu diambil setelah Thoudy menunjukkan keyakinan penuh terhadap langkah yang dipilihnya. Keluarga pun memahami situasi yang dihadapi para relawan di lapangan bukan perkara mudah.
Saat ini, keluarga menyerahkan proses penanganan dan upaya pemulangan kepada Pemerintah Indonesia, khususnya melalui jalur diplomasi yang dilakukan Kementerian Luar Negeri dan pihak terkait lainnya. Mereka berharap seluruh relawan asal Indonesia dapat segera memperoleh perlindungan dan kepastian kondisi.
“Kami menaruh kepercayaan penuh kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan jajaran terkait, yang kami yakini tengah bekerja melalui jalur diplomasi untuk memastikan keselamatan dan pemulangan relawan,” ujarnya.
Sebelumnya, lima warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi pelayaran kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia menuju Gaza dilaporkan ditahan tentara Israel. Mereka mengikuti misi Global Sumud Flotilla 2026 yang bertujuan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina.
Kelima WNI tersebut yakni Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, Bambang Noroyono atau Abeng, serta Andi Angga Prasetya. Mereka berada di beberapa kapal berbeda yang dicegat militer Israel dalam perjalanan menuju Gaza.
Thoudy, Rahendro, dan Andre diketahui berada di Kapal Ozgurluk. Sementara Abeng berada di Kapal BoraLize dan Andi Angga menumpangi Kapal Josef.
Sebagian besar peserta misi dari Indonesia berprofesi sebagai jurnalis. Thoudy dan Abeng merupakan jurnalis Republika, Andre berasal dari Tempo, sedangkan Rahendro bekerja di iNews. Adapun Andi Angga dikenal sebagai aktivis kemanusiaan dari Rumah Zakat.(*)







