Jakarta, Lini Indonesia – Ketika nama Cristiano Ronaldo masuk dalam skuad Portugal untuk Piala Dunia 2026, dunia sepak bola kembali dibuat takjub. Di usia 41 tahun, pemain yang telah meraih hampir semua gelar bergengsi itu masih mampu bertahan di level tertinggi dan tampil di Piala Dunia keenamnya, sebuah rekor yang sulit ditandingi pemain lain.
Namun pertanyaan besar yang kini muncul bukan lagi soal apakah Ronaldo masih bisa bermain, melainkan: apakah ia masih bisa bersinar?
Antara Rekor dan Realita Usia
Tidak ada yang meragukan dedikasi Ronaldo terhadap sepak bola. Disiplin latihan, pola makan, dan perawatan fisiknya telah menjadi standar emas bagi atlet profesional. Berkat itu, ia mampu menembus batas usia yang biasanya menjadi akhir karier bagi kebanyakan pesepak bola.
Tetapi sepak bola modern tidak hanya soal kebugaran. Kecepatan berpikir, mobilitas, dan intensitas permainan kini semakin tinggi. Pada usia 41 tahun, Ronaldo tentu tidak lagi memiliki ledakan sprint seperti saat membawa Portugal berjaya di era 2000-an atau ketika menjadi mesin gol Real Madrid.
Laga perdana Portugal di Piala Dunia 2026 menjadi gambaran yang cukup jelas. Dalam hasil imbang 1-1 melawan DR Kongo, Ronaldo gagal memanfaatkan beberapa peluang emas dan tampil minim kontribusi dalam permainan terbuka. Kritik pun mulai bermunculan bahwa Portugal mungkin terlalu bergantung pada nama besar sang legenda.
Ronaldo Tak Harus Menjadi Ronaldo yang Dulu
Kesalahan terbesar publik adalah membandingkan Ronaldo saat ini dengan Ronaldo versi 25 tahun. Jika ukuran keberhasilan masih menggunakan standar 50 gol semusim dan aksi individu spektakuler, maka tentu jawabannya adalah tidak.
Namun jika yang diharapkan adalah sosok pemimpin, predator di kotak penalti, dan pemain yang mampu mengubah pertandingan lewat satu momen, Ronaldo masih memiliki kapasitas tersebut.
Banyak pemain hebat yang mampu memperpanjang karier karena berhasil beradaptasi. Ronaldo juga telah berubah dari seorang winger eksplosif menjadi striker murni yang mengandalkan positioning, insting gol, dan pengalaman. Para pengamat olahraga menilai transformasi ini menjadi alasan utama mengapa ia masih mampu bersaing di usia 40-an.
Portugal Lebih Kuat dari Era Sebelumnya
Ironisnya, peluang Ronaldo meraih Piala Dunia justru datang ketika ia bukan lagi pusat permainan Portugal.
Generasi saat ini dipenuhi pemain berkualitas seperti Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Vitinha, João Neves, hingga Nuno Mendes. Banyak pengamat menilai skuad Portugal 2026 merupakan salah satu yang terlengkap dalam sejarah negara tersebut.
Artinya, Ronaldo tidak lagi dituntut menjadi penyelamat di setiap pertandingan. Ia hanya perlu melakukan apa yang menjadi spesialisasinya selama dua dekade terakhir: mencetak gol pada momen penting.
Di sinilah peluangnya untuk tetap bersinar terbuka lebar.
Bersinar Belum Tentu Berarti Menjadi Top Skor
Jika definisi “bersinar” adalah menjadi pencetak gol terbanyak turnamen, kemungkinan itu memang kecil. Persaingan dengan pemain yang lebih muda seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland, atau bintang-bintang generasi baru tentu sangat berat.
Namun jika bersinar berarti mencetak gol penentu, membawa Portugal melangkah jauh, dan menutup karier Piala Dunia dengan kisah yang indah, Ronaldo masih memiliki peluang.
Sepak bola sering kali menghadirkan cerita yang tidak selalu ditentukan statistik. Pengalaman bermain di enam Piala Dunia, kepemimpinan di ruang ganti, dan mentalitas juara adalah aset yang tidak bisa diukur hanya dengan jumlah sprint atau sentuhan bola.
Cristiano Ronaldo mungkin tidak lagi menjadi pemain yang mampu mendominasi pertandingan selama 90 menit. Usia 41 tahun membuat penurunan fisik menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Namun menilai Ronaldo hanya dari kecepatan atau jumlah gol akan mengabaikan satu hal penting: ia adalah salah satu pemain paling berpengalaman dalam sejarah sepak bola.
Apakah ia masih bisa bersinar di Piala Dunia 2026?
Ya, tetapi dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai Ronaldo muda yang berlari melewati lima pemain lawan, melainkan sebagai legenda yang menunggu momen tepat untuk kembali menentukan sejarah. Dan jika ada satu pemain yang mampu menentang logika usia, nama itu masih Cristiano Ronaldo.(*)







