Jakarta, Lini Indonesia – Isu suksesi kepemimpinan di Korea Utara kembali mencuat setelah putri pemimpin tertinggi Kim Jong Un, yang masih berusia sekitar 12 hingga 13 tahun, dikabarkan memegang peran penting di bidang persenjataan strategis.
Badan Intelijen Nasional Korea Selatan melaporkan kepada Komite Intelijen Majelis Nasional pada pertengahan Februari bahwa anak Kim disebut bertindak sebagai “direktur jenderal rudal.”
Informasi tersebut turut dikutip media setempat, Chosun Daily, pada Senin (23/2). Menurut laporan itu, situasi tersebut dinilai sebagai bagian dari tahap awal penunjukan calon penerus.
“Ini adalah tahap penunjukan sebagai penerus,” demikian menurut Badan Intelijen Nasional kepada Komite Intelijen Majelis Nasional pada pertengahan Februari, diikuti Chosun Daily, Senin (23/2/2026).
“Telah terdeteksi keadaan di mana (putrinya) memberikan pendapat tentang beberapa kebijakan,” lanjut mereka.
Intelijen Seoul juga mengungkap adanya indikasi bahwa putri Kim telah memberikan pandangan dalam sejumlah kebijakan. Meski jabatan Direktur Jenderal Urusan Rudal secara resmi masih dipegang oleh Jang Chang Ha, keterlibatan sang putri disebut menunjukkan peningkatan peran di lingkaran elite kekuasaan.
Dengan posisi tersebut, ia disebut berpotensi memiliki akses awal terhadap struktur militer, termasuk menerima laporan dari para jenderal dan menyampaikan arahan tertentu.
Selain itu, badan intelijen Korea Selatan juga mengklaim memperoleh informasi bahwa nama putri Kim adalah Kim Ju Hae, yang sebelumnya dikenal publik sebagai Kim Ju Ae.
Spekulasi mengenai dirinya sebagai calon suksesor memang telah lama beredar. Kim Jong Un beberapa kali terlihat mengajak putrinya menghadiri agenda penting, mulai dari pemantauan uji coba rudal hingga kongres partai.
Dalam foto resmi yang dirilis media pemerintah Korea Utara, ia juga tampak mendampingi kedua orang tuanya berkunjung ke Istana Matahari Kumsusan, mausoleum tempat pemimpin terdahulu disemayamkan.
Kehadiran tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa ia tengah dipersiapkan sebagai penerus rezim Pyongyang.(*)







