Panas! Marc Klok Dituding Rasis oleh Bhayangkara FC, Ini Kronologinya

Laga panas antara Bhayangkara FC dan Persib Bandung dalam lanjutan pekan ke-30 Liga 1 Indonesia mendadak berubah menjadi sorotan, bukan hanya karena tensi pertandingan, foto: ist

Jakarta, Lini Indonesia – Laga panas antara Bhayangkara FC dan Persib Bandung dalam lanjutan pekan ke-30 Liga 1 Indonesia mendadak berubah menjadi sorotan, bukan hanya karena tensi pertandingan, tetapi juga tudingan serius yang menyentuh isu sensitif: rasisme.

Kontroversi bermula dari momen setelah Persib berhasil mencetak gol yang memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1. Di tengah suasana yang memanas, gelandang Persib, Marc Klok, terlihat berbicara dengan penyerang Bhayangkara FC, Henry Doumbia. Percakapan singkat itu ternyata memicu kesalahpahaman yang berujung panjang.

Read More

Pihak Bhayangkara FC menilai Klok telah melontarkan kata bernuansa rasial kepada Doumbia. Tuduhan tersebut langsung ditindaklanjuti secara resmi. Manajemen Bhayangkara bahkan melaporkan insiden itu kepada match commissioner dan mengirimkan surat ke Komisi Disiplin PSSI.

Dalam pernyataan mereka, terlihat jelas kekecewaan dan kemarahan atas dugaan perlakuan yang dianggap tidak pantas di lapangan sepak bola.

“Terkait dengan aksi rasis yang diterima Henry Doumbia, selepas pertandingan manajemen Bhayangkara Presisi Lampung FC langsung melaporkan aksi rasis Marc Klok kepada Match Commsioner (Match Com) yang bertugas di laga tersebut dan juga langsung bersurat ke Komdis PSSI,” tulis pernyataan resmi Bhayangkara FC di Instagram.

Namun di sisi lain, bantahan keras datang dari kubu Persib. Marc Klok dengan tegas menyangkal tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa ucapannya sama sekali tidak mengandung unsur rasis. Menurutnya, situasi saat itu murni soal permainan—ia hanya meminta bola yang sempat ditahan Doumbia usai gol terjadi, dengan kalimat sederhana: “Give me the ball back.”

Menariknya, menurut Klok, kesalahpahaman itu sebenarnya sudah sempat diluruskan. Doumbia disebut telah meminta maaf karena salah mendengar, mengira kata “back” sebagai “black”. Namun situasi justru semakin memanas ketika Chief Operating Officer Bhayangkara FC, Sumardji, tetap menuduh Klok sebagai pelaku rasisme, bahkan di luar lapangan.

Klok mengaku terpukul dengan tudingan tersebut. Ia merasa reputasi dan integritasnya sebagai pemain dipertaruhkan. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan bahwa tuduhan itu terus dilontarkan, baik di lorong stadion maupun setelah pertandingan berakhir—sesuatu yang menurutnya sudah melewati batas sportivitas.

“Manajer mereka, Sumardji, yang tidak berada di dekat lapangan, terus menyebut saya sebagai rasis, baik di dalam lorong stadion, dekat ruang ganti, maupun di lapangan setelah pertandingan. Saya telah memintanya untuk berhenti dan menyampaikan bahwa saya merasa terluka atas tuduhan yang tidak benar tersebut,” tulis Klok dalam pernyataan Persib di Instagram.

Klok pun berharap ada klarifikasi dan permintaan maaf resmi dari Bhayangkara FC. Ia menilai tuduhan tanpa dasar yang terus disebarkan dapat merusak nama baiknya dan mencederai nilai-nilai fair play dalam sepak bola.

“Saya menilai perilaku ini telah melampaui batas sepak bola dan esensi dari permainan ini. Saya mengharapkan adanya permintaan maaf resmi dari Bhayangkara FC atas kekeliruan dan kesalahpahaman yang merugikan nama saya, serta atas penyebaran tuduhan yang tidak benar,” tandas Marc Klok.

Kini, kasus ini menjadi perhatian publik dan berpotensi berlanjut ke ranah disipliner. Di tengah semangat kompetisi, insiden ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga tentang menjaga rasa hormat, komunikasi, dan sportivitas di atas segalanya.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *