Jakarta, Lini Indonesia – Langkah tim bulu tangkis putra Indonesia di ajang Thomas Cup 2026 berakhir dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak keikutsertaan perdana, Indonesia harus menerima kenyataan pahit—tersingkir di fase grup, sebuah hasil yang mencoreng sejarah panjang kejayaan Merah Putih di turnamen beregu paling bergengsi tersebut.
Bermain di Forum Horsens, Denmark, harapan Indonesia sebenarnya sempat menyala di awal turnamen. Tim yang diperkuat para pemain terbaik seperti Fajar Alfian dan kolega membuka perjalanan dengan kemenangan meyakinkan 5-0 atas Aljazair, lalu melanjutkannya dengan kemenangan tipis 3-2 atas Thailand. Namun, semua berubah drastis di laga penentuan.
Pada pertandingan terakhir Grup D, Indonesia harus mengakui keunggulan Prancis dengan skor telak 1-4. Kekalahan ini menjadi pukulan telak, karena sekaligus memastikan Indonesia hanya finis di posisi ketiga klasemen grup dan gagal melaju ke fase gugur.
Yang lebih menyakitkan, kekalahan tersebut didominasi oleh sektor yang selama ini menjadi tulang punggung—tunggal putra. Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, hingga pemain muda lainnya tak mampu menyumbangkan poin di laga krusial. Satu-satunya kemenangan hanya datang dari sektor ganda, namun itu tak cukup untuk menyelamatkan langkah tim.
Hasil ini bukan sekadar kekalahan biasa. Ini adalah sejarah kelam. Indonesia, yang dikenal sebagai “raja” Thomas Cup dengan 14 gelar juara, untuk pertama kalinya gagal menembus fase gugur sejak turnamen ini digelar.
Sementara itu, PBSI secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Mereka mengakui bahwa lawan tampil lebih baik, serta menilai ada kekurangan dari sisi strategi hingga eksekusi di lapangan.
“Atas nama PBSI, saya memohon maaf karena belum bisa memberikan hasil yang terbaik untuk Thomas Cup kali ini. Kami menerima hasil ini dan mengakui keunggulan tim Prancis yang mampu memanfaatkan peluang dengan sangat baik di setiap partai,” ujar Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/4/2026).
Jika dilihat lebih dalam, persaingan di Grup D memang berlangsung ketat. Indonesia, Thailand, dan Prancis sama-sama mengoleksi dua kemenangan. Namun, selisih pertandingan (match difference) menjadi penentu yang membuat Indonesia harus tersingkir.
Kini, kegagalan ini menjadi alarm keras bagi bulu tangkis Indonesia. Tradisi besar dan sejarah panjang tidak lagi cukup tanpa pembaruan, konsistensi, dan mental bertanding yang kuat.
Di tengah rasa kecewa, satu pertanyaan besar muncul:
apakah ini hanya kegagalan sesaat—atau tanda bahwa Indonesia harus segera berbenah sebelum benar-benar tertinggal di panggung dunia?(*)







