Jakarta, Lini Indonesia – Dunia kesehatan internasional tengah menyoroti dugaan wabah Hantavirus yang dikaitkan dengan kematian tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius. Kapal tersebut diketahui melakukan pelayaran dari Argentina menuju Cape Verde sebelum insiden mengejutkan itu terjadi.
Menurut laporan World Health Organization (WHO), virus ini berasal dari hewan pengerat seperti tikus dan dapat menular ke manusia melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan yang terinfeksi. Bahkan gigitan maupun cakaran juga bisa menjadi jalur penularan.
Para ahli menjelaskan bahwa terdapat sedikitnya 38 jenis hantavirus di dunia, dan sekitar 24 di antaranya diketahui mampu menyebabkan penyakit pada manusia. Meski begitu, kasus infeksi hantavirus sebenarnya tergolong langka dan sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai penyakit umum lain, terutama flu.
Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, tubuh lemas, sakit kepala, hingga nyeri otot. Namun dalam kasus tertentu, kondisi bisa berkembang sangat cepat menjadi gangguan pernapasan serius hingga gagal napas. Inilah yang membuat hantavirus dianggap berbahaya, terutama jenis yang ditemukan di kawasan Amerika atau dikenal sebagai hantavirus “dunia baru”.
Sementara itu, tipe hantavirus yang banyak ditemukan di Eropa dan Asia lebih sering menyerang ginjal. Kedua kelompok virus tersebut sama-sama berasal dari hewan pengerat, yang menjadi reservoir alami penyebaran virus.
WHO saat ini masih melakukan penyelidikan terkait sumber pasti wabah di kapal MV Hondius. Dugaan sementara mengarah pada adanya kontaminasi hewan pengerat di dalam kapal. Namun, para ahli juga tidak menutup kemungkinan bahwa penumpang sudah terpapar virus saat melakukan aktivitas di daratan sebelum perjalanan dimulai.
Walaupun ada laporan penularan antarmanusia pada beberapa kasus tertentu, para pakar menegaskan bahwa hantavirus tidak menyebar dengan mudah seperti COVID-19 atau flu biasa. Risiko terbesar tetap berasal dari paparan lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat.
Hal lain yang membuat virus ini sulit dilacak adalah masa inkubasinya yang cukup panjang, yakni antara satu hingga delapan minggu. Seseorang bisa terinfeksi tanpa langsung menunjukkan gejala, sehingga sumber penularan kerap baru diketahui setelah kondisi memburuk.
Yang paling mengkhawatirkan, beberapa jenis hantavirus memiliki tingkat kematian yang tinggi. Pada kasus sindrom paru akibat hantavirus, angka fatalitas dilaporkan bisa mencapai sekitar 40 persen. Hingga kini, belum ada obat antivirus khusus yang benar-benar efektif untuk melawan infeksi tersebut.
Karena itu, penanganan pasien lebih difokuskan pada perawatan suportif, terutama untuk membantu fungsi pernapasan dan menjaga kondisi tubuh tetap stabil. Di tengah penyelidikan yang masih berlangsung, kasus di MV Hondius menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit dari hewan liar masih nyata dan bisa muncul di tempat yang tidak terduga.(*)







