Jakarta, Lini Indonesia – Cristiano Ronaldo telah memenangkan hampir semua gelar yang bisa diimpikan seorang pesepak bola. Lima trofi Liga Champions, lima Ballon d’Or, juara liga di Inggris, Spanyol, dan Italia, hingga membawa Portugal meraih gelar Piala Eropa 2016 dan UEFA Nations League. Namun, ada satu trofi yang selama lebih dari dua dekade terus ia kejar, tetapi tak pernah berhasil digenggam: Piala Dunia.
Mimpi itu resmi berakhir di Arlington, Texas.
Portugal harus mengakhiri langkahnya di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah tipis 0-1 dari Spanyol. Gol telat Mikel Merino pada masa injury time memupus harapan Portugal melangkah ke perempat final sekaligus menutup perjalanan Ronaldo di panggung sepak bola terbesar dunia.
Usai pertandingan, Ronaldo berjalan meninggalkan lapangan dengan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian, ia memastikan bahwa Piala Dunia 2026 merupakan penampilan terakhirnya di ajang empat tahunan tersebut.
Meski belum memutuskan kapan akan pensiun dari tim nasional Portugal, pemain berusia 41 tahun itu mengakui bahwa perjalanan panjangnya di Piala Dunia kini telah selesai. Ia memilih tidak mengambil keputusan tergesa-gesa mengenai masa depannya bersama timnas.
Ironisnya, kegagalan itu terjadi ketika Ronaldo sebenarnya telah menorehkan hampir semua rekor individu yang mungkin dicapai seorang pesepak bola.
Ia menjadi pemain pertama yang mampu mencetak gol di enam edisi Piala Dunia berbeda, memegang rekor penampilan terbanyak bersama tim nasional Portugal, sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah sepak bola internasional. Selama lebih dari dua dekade, Ronaldo selalu hadir sebagai simbol ambisi dan konsistensi Portugal di panggung dunia.
Namun, sepak bola tidak selalu berpihak kepada mereka yang memiliki statistik terbaik.
Sepanjang kariernya di Piala Dunia, Ronaldo beberapa kali datang dengan status favorit. Mulai dari generasi emas Portugal bersama LuÃs Figo, kemudian era Pepe, João Moutinho, Bernardo Silva, Bruno Fernandes hingga munculnya talenta-talenta baru, harapan agar Portugal mampu mengangkat trofi Jules Rimet selalu hidup. Namun, mimpi itu tak pernah benar-benar menjadi kenyataan.
Puncak pencapaian Portugal di era Ronaldo tetap terjadi pada 2006 ketika mereka finis di peringkat keempat. Setelah itu, perjalanan mereka di Piala Dunia selalu berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.
Yang membuat kisah ini terasa semakin emosional adalah kenyataan bahwa Ronaldo sebenarnya telah memberikan hampir semua yang diminta negaranya.
Ia mengantar Portugal meraih gelar Euro 2016, trofi mayor pertama dalam sejarah sepak bola Portugal. Ia juga membantu negaranya menjuarai UEFA Nations League pada 2019 dan kembali mengangkat trofi yang sama pada 2025.
Dalam konferensi pers usai laga melawan Spanyol, Ronaldo mengatakan dirinya pergi dengan hati yang tenang karena merasa telah memberikan segalanya untuk Portugal.
Bagi banyak pemain, karier diukur dari jumlah trofi. Namun bagi Ronaldo, warisan yang ia tinggalkan jauh melampaui koleksi medali.
Ia mengubah standar profesionalisme, disiplin, dan mentalitas juara. Ia membawa Portugal dari tim yang kerap dipandang sebagai kuda hitam menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa.
Pengaruhnya terasa bukan hanya di lapangan, tetapi juga pada lahirnya generasi pemain Portugal yang tumbuh dengan keyakinan bahwa negaranya mampu bersaing dengan siapa pun.
Karena itu, kekalahan dari Spanyol bukan sekadar akhir perjalanan Portugal di Piala Dunia 2026. Laga tersebut juga menjadi penutup dari mimpi terbesar Cristiano Ronaldo—mimpi yang selama bertahun-tahun ia kejar, tetapi akhirnya harus dilepas begitu saja.
Ia mungkin tidak akan pernah mengangkat trofi Piala Dunia.
Namun, bagi jutaan penggemarnya, Cristiano Ronaldo tetap akan dikenang sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola. Sebab tidak semua legenda diukur dari trofi yang berhasil diraih. Ada pula yang dikenang karena perjalanan panjang, pengorbanan, dan jejak yang mereka tinggalkan bagi generasi berikutnya.(*)







