Jakarta, Lini Indonesia – Di tengah geliat olahraga yang kian menggeliat di Tanah Air, Direktorat Jenderal Imigrasi mengambil langkah berani untuk ikut berperan lebih jauh. Bukan sekadar menjaga pintu masuk negara, kini imigrasi hadir sebagai bagian dari denyut pertumbuhan olahraga nasional.
Komitmen itu ditegaskan langsung oleh Hendarsam Marantoko saat menghadiri kemeriahan IBL All-Star 2026 di Bandung. Dalam suasana penuh semangat dan sorak penonton, ia menyampaikan visi baru: menghadirkan layanan keimigrasian yang lebih ramah bagi atlet dunia yang datang ke Indonesia.
“Kami akan membentuk tim khusus yang menangani sektor olahraga, dengan begitu para atlet akan lebih mudah dalam proses administrasi,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Menurutnya, olahraga kini bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga bagian dari industri besar yang melibatkan mobilitas global. Dalam lanskap ini, kecepatan dan kemudahan layanan menjadi kunci.
Karena itu, Imigrasi berencana membentuk tim khusus yang fokus menangani sektor olahraga—sebuah langkah yang diharapkan mampu memangkas kerumitan administrasi yang selama ini kerap menjadi hambatan.
Bayangkan seorang atlet yang baru saja menempuh perjalanan panjang, membawa harapan besar bagi timnya. Alih-alih disambut dengan antrean panjang di bandara, mereka nantinya akan mendapatkan jalur cepat atau fast track, sehingga bisa langsung beristirahat dan mempersiapkan diri. Sebuah perubahan kecil, namun berdampak besar pada kenyamanan dan performa di lapangan.
Tak berhenti di situ, sistem administrasi juga akan disederhanakan melalui pendekatan digital berbasis aplikasi. Tujuannya jelas: menghilangkan proses berulang yang melelahkan, sekaligus menciptakan layanan yang efisien dan modern.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Kehadiran atlet asing di kompetisi seperti Indonesian Basketball League dan berbagai liga lainnya telah terbukti meningkatkan kualitas pertandingan sekaligus menarik perhatian publik.
Lebih dari itu, mereka juga menjadi wajah Indonesia di mata dunia—membawa cerita, pengalaman, dan kesan yang akan tersebar melampaui batas negara.
Meski demikian, fungsi pengawasan tetap menjadi prioritas. Imigrasi memastikan bahwa setiap warga negara asing yang beraktivitas di Indonesia tetap berada dalam koridor hukum. Namun pendekatannya kini lebih humanis—mengutamakan edukasi dan pencegahan daripada sekadar penindakan.
Ke depan, kebijakan ini diharapkan bukan hanya mempermudah para atlet, tetapi juga memperkuat fondasi ekosistem olahraga nasional. Dengan layanan yang semakin terbuka dan adaptif, Indonesia perlahan menegaskan diri sebagai tuan rumah yang ramah—tempat di mana kompetisi bertemu kenyamanan, dan prestasi lahir dari dukungan yang nyata.(*)







