Hantavirus: Gejala, Cara Penularan, dan Risiko Fatal yang Perlu Diwaspadai

Hantavirus: Gejala, Cara Penularan, dan Risiko Fatal yang Perlu Diwaspadai
Hantavirus: Gejala, Cara Penularan, dan Risiko Fatal yang Perlu Diwaspadai

Jakarta, Lini Indonesia – Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah dikaitkan dengan dugaan kematian sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius. Meski tergolong penyakit langka, para ahli mengingatkan bahwa infeksi hantavirus tidak boleh dianggap sepele karena gejala awalnya sering kali mirip flu biasa, tetapi dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi penyakit serius bahkan mematikan.

Menurut World Health Organization (WHO), hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus. Penularan kepada manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan yang terinfeksi. Virus juga bisa menyebar saat seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi.

Read More

Yang membuat hantavirus cukup berbahaya adalah gejalanya pada tahap awal sering menyerupai penyakit umum, sehingga banyak orang tidak menyadari infeksi sejak dini.

Penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, tubuh lemas, mual, hingga menggigil. Pada beberapa kasus, gejala tersebut tampak seperti flu musiman biasa.

Namun dalam perkembangan tertentu, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat. Beberapa jenis hantavirus, khususnya yang ditemukan di kawasan Amerika, dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni gangguan paru serius yang membuat pasien mengalami sesak napas hingga gagal napas akut. Tingkat kematian akibat sindrom ini dilaporkan bisa mencapai sekitar 38–40 persen.

Selain menyerang paru-paru, jenis hantavirus lain yang banyak ditemukan di Eropa dan Asia juga dapat memicu gangguan ginjal serius. Karena itu, para ahli menilai diagnosis dini sangat penting agar pasien segera mendapat penanganan medis yang tepat.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut hingga saat ini belum ada obat antivirus khusus yang benar-benar efektif untuk mengatasi hantavirus.

Penanganan pasien lebih difokuskan pada perawatan suportif, termasuk bantuan oksigen dan pemantauan intensif apabila kondisi pernapasan mulai terganggu.

Meski terdengar mengkhawatirkan, para pakar menegaskan bahwa hantavirus tidak menular dengan mudah antar manusia seperti COVID-19. Risiko terbesar tetap berasal dari lingkungan yang terpapar hewan pengerat, terutama area tertutup, gudang, pertanian, atau bangunan yang jarang dibersihkan.

Karena itu, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya. Penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi juga dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan virus.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *