Jakarta, Lini Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan dan menembus level Rp17.511 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan kondisi geopolitik dunia menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap mata uang Garuda. Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah dinilai meningkatkan ketidakpastian ekonomi global sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry dalam keterangannya kepada Media, Selasa (12/5/2026).
Menurut Destry, situasi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan di pasar keuangan.
Selain sentimen eksternal, BI juga menyoroti meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang bersifat musiman. Permintaan valuta asing naik seiring pembayaran utang luar negeri perusahaan, pembagian dividen, hingga kebutuhan masyarakat untuk pelaksanaan ibadah haji.
Kondisi tersebut membuat permintaan dolar di pasar domestik meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, BI menilai tekanan terhadap rupiah saat ini masih bersifat sementara dan berpotensi mereda setelah kebutuhan musiman mulai menurun.
Untuk menjaga kestabilan nilai tukar, Bank Indonesia memastikan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing secara optimal. Langkah yang ditempuh meliputi intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga Non Deliverable Forward (NDF).
Selain intervensi pasar, BI juga mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter guna menekan volatilitas rupiah agar tetap terkendali.
Di tengah tekanan tersebut, BI melihat kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan Indonesia masih cukup positif. Hal itu tercermin dari aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang April 2026 yang tercatat mencapai Rp61,6 triliun.
Tak hanya itu, likuiditas valuta asing di dalam negeri juga dinilai masih memadai. BI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) valas hingga akhir Maret 2026 tumbuh 10,9 persen secara year to date (ytd).
Destry optimistis tekanan terhadap rupiah yang dipicu faktor musiman dapat segera mereda sehingga nilai tukar berpeluang kembali bergerak menuju level fundamentalnya.(*)







