Jakarta, Lini Indonesia – Tanpa sempat mengenakan alas kaki, Jessie bersama sejumlah tamu Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, bergegas menuruni tangga darurat. Mereka hanya berpikir satu hal: segera keluar dari bangunan.
Situasi semakin menegangkan ketika puing-puing tembok ditemukan berserakan di lantai empat. Suara gemuruh masih terdengar, sementara bangunan hotel terus terasa berguncang.
Jessie dan Kadek yang berada di lantai lima bahkan tidak sempat mengambil telepon seluler maupun barang-barang pribadi. Keduanya memilih meninggalkan semuanya dan mengikuti jalur evakuasi bersama tamu lain yang dibantu staf hotel.
“Tembok-tembok mulai runtuh, suara gemuruh makin kencang. Kami tidak sempat membawa HP, tidak memakai sandal, langsung lari turun pelan-pelan bersama tamu lain yang dibantu staf hotel,” ujar Jessie dikutip dari CNN.
Keduanya baru tiba di Labuan Bajo pada Jumat (14/8) malam. Tak pernah terbayang, belum genap sehari berada di kota tersebut, mereka harus menghadapi situasi darurat akibat gempa.
Kadek masih mengingat jelas suara keras yang muncul bersamaan dengan guncangan. Pada awalnya, ia bahkan sempat mengira suara tersebut berasal dari sesuatu yang terjadi di dalam kamar.
“Suaranya keras sekali, gedung berguncang hebat. Saya kira ada yang mengetuk pintu, ternyata gempa. Rasanya jauh lebih kuat dan lama dari yang biasa kami rasakan,” kata Kadek.
Pengalaman serupa dialami Torhstaeen, wisatawan asal Norwegia berusia 28 tahun. Ia baru menginap satu malam di Hotel Jayakarta ketika guncangan hebat tiba-tiba membangunkannya.
Dari kamar di lantai lima, Torhstaeen melihat pemandangan yang membuatnya segera menyadari bahwa keadaan sedang tidak normal. Para staf hotel berlarian di sekitar area kolam renang.
Awalnya ia mengaku belum memahami apa yang sedang terjadi. Namun, kepanikan orang-orang di bawah membuatnya sadar bahwa gempa yang mengguncang hotel cukup serius.
“Hari ini kami dibangunkan oleh gempa yang besar. Sebelumnya saya tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Saat melihat ke luar jendela, saya melihat staf-staf hotel berlarian melewati area kolam renang. Di situ saya menyadari keadaan sudah serius,” tuturnya.
Torhstaeen kemudian mengenakan pakaian dan keluar dari kamar menuju koridor. Ia sempat hendak menggunakan lift untuk turun, tetapi rencana itu dibatalkan setelah sebuah keluarga memperingatkannya.
Mereka memberi tahu bahwa terdapat bagian dinding hotel yang roboh dan menyarankan agar lift tidak digunakan. Torhstaeen akhirnya bertahan di sekitar area tersebut sampai guncangan mereda.
Setelah situasi dianggap cukup aman, ia bersama tamu lainnya memilih menggunakan tangga darurat untuk meninggalkan bangunan.
Ketakutan belum benar-benar berakhir meski mereka sudah berhasil keluar. Beberapa gempa susulan masih terasa ketika para tamu berkumpul di area luar hotel.
Menurut Kadek dan Jessie, guncangan pertama terasa sangat lama, bahkan diperkirakan berlangsung sekitar lima menit. Keduanya menggambarkan pengalaman tersebut sebagai salah satu gempa terkuat yang pernah mereka rasakan.
Peristiwa yang membuat para tamu hotel berhamburan menyelamatkan diri itu terjadi setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.
Gempa utama tercatat berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Kekuatan gempa membuat BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah, termasuk NTT dan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Peringatan dini tersebut kemudian dinyatakan berakhir. Namun, BMKG melaporkan adanya akenaikan ombak yang menerpa sejumlah kawasan pesisir.
Bagi Torhstaeen, Kadek, Jessie, dan para tamu lainnya, gempa itu bukan sekadar getaran yang berlangsung beberapa menit. Kepanikan, suara bangunan yang bergemuruh, hingga puing-puing yang menghalangi tangga menjadi pengalaman yang kemungkinan sulit mereka lupakan dari perjalanan ke Labuan Bajo.(*)







