Jakarta, Lini Indonesia – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Aktivitas vulkanik gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut meningkat dalam beberapa hari terakhir dan kembali menjadi perhatian setelah erupsi menerus berlangsung selama berjam-jam.
Badan Geologi mencatat Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh dan semburan berwarna merah menyala yang terlihat terus-menerus dari pos pengamatan. Fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang dapat menghasilkan aliran lava.
Aktivitas itu bukan kejadian yang muncul secara tiba-tiba. Sejak 2 Juli 2026, status Gunung Anak Krakatau telah berada pada Level III atau Siaga. Erupsi tipe Strombolian juga tercatat berlangsung hingga 5 September, dengan material berupa lontaran batu pijar dan abu vulkanik.
Erupsi terbaru tersebut kemudian menghidupkan kembali ingatan terhadap dua peristiwa besar yang melekat pada nama Krakatau: letusan dahsyat 1883 dan tsunami Selat Sunda pada 2018.
Namun, mengapa setiap kali Anak Krakatau kembali aktif, sejarah dua tragedi tersebut selalu ikut menjadi perhatian?
Lahir dari Kehancuran Krakatau 1883
Untuk memahami Anak Krakatau, kita harus kembali lebih dari satu abad ke belakang.
Pada 1883, kawasan Krakatau mengalami salah satu letusan vulkanik paling dahsyat yang pernah tercatat. Aktivitas besar mencapai puncaknya pada 26-28 Agustus 1883 dan menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh serta terbentuknya kaldera.
Letusan tersebut juga memicu tsunami besar yang menghantam wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda. Kajian Badan Geologi mencatat korban jiwa akibat letusan dan tsunami Krakatau 1883 mencapai lebih dari 36 ribu orang.
Dari kawasan yang porak-poranda itulah kemudian muncul aktivitas vulkanik baru.
Sekitar empat dekade setelah bencana 1883, aktivitas erupsi bawah laut kembali muncul. Penelitian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat letusan bawah laut mulai terjadi pada akhir Desember 1927. Material vulkanik kemudian terus menumpuk hingga akhirnya membentuk gunung baru yang muncul ke permukaan pada 1929.
Gunung tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.
Dengan kata lain, gunung yang kini kembali erupsi itu merupakan bagian dari siklus geologi panjang kawasan Krakatau setelah kehancuran besar pada 1883.
Anak Krakatau Terus Tumbuh
Setelah muncul ke permukaan, Anak Krakatau ternyata berkembang cukup cepat.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Geologi Indonesia mencatat bahwa antara 1930 hingga 2005, ketinggian Anak Krakatau bertambah sekitar 315 meter. Rata-rata pertumbuhannya diperkirakan mencapai sekitar empat meter per tahun. Pertumbuhan tersebut terjadi seiring aktivitas erupsi yang terus membangun tubuh gunung.
Pertumbuhan itulah yang membuat Anak Krakatau menjadi gunung api yang terus berubah bentuk.
Namun, sejarah kemudian menunjukkan bahwa tubuh gunung yang terus tumbuh juga dapat berubah menjadi sumber bahaya ketika mengalami keruntuhan.
2018, Saat Anak Krakatau Memicu Tsunami
Pada 22 Desember 2018, Anak Krakatau kembali menjadi pusat perhatian setelah terjadi tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.
Berbeda dengan tsunami yang umumnya diawali gempa bumi besar, peristiwa 2018 tidak dipicu oleh gempa tektonik besar.
BMKG menjelaskan bahwa aktivitas erupsi Anak Krakatau berlangsung pada malam kejadian. Dalam kajian mengenai peristiwa tersebut, runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut menjadi bagian penting dari mekanisme pembentukan tsunami Selat Sunda.
Peristiwa itu menelan lebih dari 400 korban jiwa dan menjadi salah satu bencana tsunami paling mematikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak saat itu, setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau otomatis mendapatkan perhatian lebih besar karena para ahli tidak hanya memantau letusannya, tetapi juga perubahan bentuk tubuh gunung tersebut.
Lalu, Apakah Erupsi 2026 Bisa Memicu Tsunami?
Pertanyaan ini menjadi penting di tengah aktivitas Anak Krakatau saat ini.
Jawabannya, berdasarkan evaluasi Badan Geologi, tidak ada indikasi bahwa kondisi Anak Krakatau saat ini akan langsung mengulangi peristiwa 2018.
Badan Geologi menyebut tubuh Anak Krakatau yang kembali terbentuk setelah erupsi dan keruntuhan pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi hingga saat ini, tubuh tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski begitu, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung tetap dipantau secara intensif.
Artinya, erupsi Anak Krakatau saat ini tidak bisa serta-merta diartikan sebagai tanda bahwa tsunami 2018 akan terulang.
Ancaman yang sedang menjadi perhatian dalam aktivitas sekarang lebih berkaitan dengan erupsi itu sendiri, termasuk aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu lebat. Masyarakat maupun wisatawan juga diminta tidak memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Dari 1883, 2018, hingga 2026
Ada satu benang merah yang membuat Anak Krakatau selalu menarik perhatian.
Pada 1883, Krakatau mengalami kehancuran besar.
Pada 1927-1929, gunung baru mulai lahir dari kawasan tersebut.
Pada 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh dan berkontribusi pada terjadinya tsunami Selat Sunda.
Kini, pada 2026, Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi.
Rangkaian tersebut bukan berarti sejarah sedang mengulang dirinya secara persis. Setiap erupsi memiliki karakter dan kondisi geologi yang berbeda.
Namun, sejarah panjang Krakatau menunjukkan satu hal: gunung api ini merupakan sistem yang terus hidup dan berubah.
Karena itu, erupsi Anak Krakatau kali ini bukan sekadar tentang semburan abu dan lava. Aktivitas tersebut kembali membuka cerita panjang tentang bagaimana sebuah gunung dapat hancur, melahirkan gunung baru, tumbuh kembali, dan kemudian terus berubah selama puluhan hingga ratusan tahun.
Dan selama Anak Krakatau masih aktif, perubahan sekecil apa pun pada tubuh gunung tersebut akan tetap menjadi sesuatu yang harus diawasi.(*)







