Jakarta, Lini Indonesia – Tunggal putra andalan Indonesia, Jonatan Christie, menyimpan satu ambisi besar yang belum juga terwujud hingga kini: menaklukkan Polytron Indonesia Open 2026. Bermain di rumah sendiri, di Istora Gelora Bung Karno, menjadi panggung yang begitu ia idamkan untuk menuntaskan rasa penasaran tersebut.
Bagi Jojo—sapaan akrabnya—Indonesia Open bukan sekadar turnamen biasa. Ini adalah mimpi yang terus ia kejar sejak pertama kali tampil pada 2015. Meski telah menorehkan berbagai prestasi di level dunia, gelar juara di Indonesia Open masih menjadi kepingan yang belum lengkap dalam perjalanan kariernya.
Ia pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tahun ini. Bersama tim pelatih, Jonatan telah menetapkan Indonesia Open sebagai salah satu fokus utama musim ini. Persiapan matang dari berbagai aspek—teknik, fisik, hingga mental—akan dimaksimalkan demi meraih hasil terbaik.
“Indonesia Open ini salah satu wishlist saya, untuk bisa menjuarai kejuaraan ini. Jadi memang ini salah satu target utama di tahun ini,” ujar Jonatan dikutip dari Antara.
Perjalanan Jojo di turnamen ini memang penuh lika-liku. Pencapaian terbaiknya terjadi pada 2021 saat melaju hingga semifinal, sebelum dihentikan oleh Viktor Axelsen. Setelah itu, performanya cenderung belum stabil. Ia sempat menembus perempat final pada 2023, namun harus tersingkir lebih awal pada dua edisi berikutnya.
Kegagalan demi kegagalan itu justru menjadi bahan bakar semangat. Jojo mengaku belajar banyak dari pengalaman tersebut, terutama tentang bagaimana menghadapi tekanan besar saat bermain di hadapan publik sendiri.
“Pasti akan dipersiapkan 100 persen dari segala sisi, karena memang ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Tahun lalu mungkin terhenti di babak awal, tapi itu jadi pelajaran,” ujarnya.
Selain faktor teknis, ada satu hal yang selalu membuatnya rindu: atmosfer Istora. Baginya, stadion legendaris ini memiliki “magis” yang tak tergantikan. Dukungan penonton yang begitu dekat dan bergemuruh sering kali menjadi energi tambahan bagi para pemain Indonesia.
Dengan harga tiket yang kini lebih terjangkau, Jonatan berharap tribun Istora kembali dipenuhi para pencinta bulu tangkis. Ia ingin merasakan kembali getaran dukungan yang mampu mengangkat semangatnya di lapangan.
Di sisi lain, Jojo juga menyadari bahwa persaingan bulu tangkis dunia kini semakin merata. Negara-negara Eropa menunjukkan perkembangan pesat berkat penerapan sport science yang semakin modern, membuat peta kekuatan menjadi lebih kompetitif.
Namun, di tengah tantangan tersebut, Jonatan memilih untuk tetap fokus pada dirinya sendiri. Ia ingin menjadikan momentum tampil di kandang sebagai titik balik—sebuah kesempatan untuk menjawab rasa penasaran yang telah lama mengendap.
Kini, semua mata akan tertuju pada Istora. Dan bagi Jonatan Christie, Indonesia Open 2026 bukan sekadar turnamen—ini adalah panggung pembuktian, tempat di mana mimpi lama berusaha diwujudkan menjadi kenyataan.(*)







