Pulang ke Indonesia, Relawan Gaza Ceritakan Kekerasan yang Dialami Saat Ditahan Israel

Relawan Gaza Ceritakan Kekerasan yang Dialami Saat Ditahan Israel. foto: ist

Jakartra, Lini Indonesia – Raut lega terlihat dari sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang akhirnya kembali menginjakkan kaki di Tanah Air setelah mengalami penahanan oleh otoritas Israel. Namun di balik kepulangan itu, tersimpan kisah mencekam yang mereka alami saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza.

Salah satu relawan, Ronggo, menceritakan bagaimana kapal Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang ditumpanginya dihentikan secara paksa oleh militer Israel pada 19 Mei 2026. Misi yang membawa harapan dan solidaritas bagi rakyat Palestina itu berubah menjadi pengalaman yang penuh tekanan dan ketakutan.

Read More

Menurut Ronggo, kapal mereka lebih dulu didekati oleh kapal perang sebelum dua speedboat bersenjata mendekat. Tak lama kemudian, aparat Israel mengambil alih kendali kapal.

“Kapal kami dicegat, dibajak, lalu dirusak. Setelah itu seluruh relawan dipaksa berpindah ke kapal militer,” ujarnya dikutip Antara.

Situasi semakin menegangkan ketika para relawan mulai mengalami tindakan kekerasan. Ronggo mengaku sejumlah peserta misi kemanusiaan mendapat perlakuan kasar selama proses penahanan.

Ia menuturkan bahwa para relawan mengalami pukulan dan tendangan saat berada di kapal militer. Perlakuan serupa, kata dia, kembali terjadi ketika mereka dibawa ke Pelabuhan Ashdod untuk menjalani proses administrasi imigrasi.

Setelah itu, para relawan dipindahkan ke fasilitas penahanan di kawasan Negev, wilayah selatan Israel. Di lokasi tersebut mereka menjalani masa penahanan sebelum akhirnya dibebaskan dan diterbangkan keluar melalui Bandara Ben Gurion menuju Yordania.

Ronggo mengatakan tindakan kekerasan yang dilakukan aparat tidak hanya menimpa dirinya, tetapi juga ratusan relawan dan aktivis dari berbagai negara yang ikut dalam misi kemanusiaan tersebut.

“Hampir seluruh peserta mendapatkan perlakuan yang sama. Kekerasan dan intimidasi terus terjadi selama kami ditahan,” ungkapnya.

Meski demikian, pengalaman tersebut justru membuat para relawan semakin memahami penderitaan yang selama ini dialami rakyat Palestina. Jurnalis Republika yang juga menjadi bagian dari Global Sumud Flotilla, Thoudy Badai, mengaku bersyukur bisa pulang dengan selamat bersama rekan-rekannya.

Namun menurutnya, apa yang dialami para relawan hanya sebagian kecil dari penderitaan yang dirasakan warga Palestina setiap hari.

“Kekerasan yang kami alami tidak sebanding dengan apa yang dialami ribuan tahanan Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan ibu hamil,” kata Thoudy.

Ia berharap perhatian dunia terhadap Palestina tidak mereda. Menurutnya, dukungan dan suara solidaritas internasional sangat penting untuk terus diperjuangkan.

“Kami berharap masyarakat dunia tetap menyuarakan isu Palestina. Dukungan itu menjadi harapan bagi rakyat Palestina untuk memperoleh kemerdekaan dan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Sembilan WNI yang tergabung dalam pelayaran Global Sumud Flotilla 2.0 akhirnya berhasil kembali ke Indonesia pada Minggu (24/5/2026). Kepulangan mereka merupakan hasil upaya perlindungan yang dilakukan Kementerian Luar Negeri RI bersama perwakilan Indonesia di luar negeri.

Sebelum tiba di Jakarta, para relawan menjalani perjalanan panjang dari kawasan Timur Tengah. Mereka terlebih dahulu diterbangkan dari Istanbul menuju Dubai, sebelum melanjutkan penerbangan ke Jakarta dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu sore.

Meski telah kembali ke pelukan keluarga, pengalaman yang mereka bawa dari misi kemanusiaan tersebut menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi para aktivis yang berusaha menyalurkan bantuan dan menyuarakan solidaritas bagi warga Gaza.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *