Jakarta, Lini Indonesia – Argentina kembali mencapai final Piala Dunia. Setelah menjadi juara pada 2022, Albiceleste kini berpeluang mempertahankan gelar di edisi 2026. Banyak sorotan tertuju pada Lionel Messi, tetapi perjalanan Argentina menuju partai puncak sebenarnya dibangun oleh kombinasi pengalaman, kedalaman skuad, dan kemampuan bangkit dalam momen-momen krusial.
Perjalanan Argentina menuju final:
- 16 Besar: Argentina 3-2 Mesir
- Perempat final: Argentina 3-1 Swiss
- Semifinal: Argentina 2-1 Inggris
Tiga laga tersebut memperlihatkan pola yang sama: Argentina mampu mencetak gol ketika pertandingan memasuki fase paling menentukan.
Konsisten Produktif di Fase Gugur
Salah satu alasan utama Argentina melaju jauh adalah produktivitas serangan. Dalam tiga pertandingan knockout, mereka mencetak delapan gol. Tidak ada kemenangan tipis 1-0 yang penuh keberuntungan; Argentina mampu menciptakan peluang dan menyelesaikannya dengan efektif.
Pada laga melawan Mesir, Argentina menang 3-2. Di perempat final, mereka menyingkirkan Swiss 3-1. Lalu di semifinal, mereka mengalahkan Inggris 2-1 lewat comeback dramatis.
Produktivitas ini menunjukkan bahwa Argentina tidak bergantung pada satu skema serangan saja. Gol datang dari kombinasi permainan sayap, umpan silang, tembakan jarak jauh, dan transisi cepat.
Messi Tetap Menjadi Penghubung Permainan
Lionel Messi memang tidak lagi mendominasi pertandingan selama 90 menit seperti pada masa puncaknya, tetapi pengaruhnya tetap besar. Dalam semifinal melawan Inggris, Messi mencatat dua assist untuk gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.
Dengan dua assist tersebut, Messi menjadi pemegang rekor assist terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan total 12 assist. Reuters mencatat bahwa pemain berusia 39 tahun itu tampil sebagai pengatur serangan yang memilih momen secara lebih efisien, bukan lagi mengandalkan dribel tanpa henti.
Artinya, Argentina tidak bergantung pada Messi sebagai pencetak gol utama, melainkan sebagai otak permainan yang menentukan arah serangan.
Kedalaman Skuad yang Membuat Perbedaan
Tim juara biasanya tidak hanya memiliki sebelas pemain inti yang kuat, tetapi juga cadangan yang mampu mengubah pertandingan. Argentina memperlihatkan hal itu.
Lautaro Martinez menjadi contoh paling jelas. Masuk sebagai pemain pengganti di semifinal, ia mencetak gol kemenangan pada masa injury time. Sebelumnya, Julian Alvarez juga berperan penting di fase gugur.
Kehadiran pemain seperti Lautaro, Alvarez, Alexis Mac Allister, dan Enzo Fernandez membuat Argentina tetap berbahaya meski pertandingan memasuki menit-menit akhir.
Mental Juara yang Sudah Terbentuk
Faktor ini sulit diukur dengan statistik, tetapi terlihat jelas dalam pertandingan semifinal. Argentina tertinggal lebih dulu dari Inggris pada menit ke-55. Banyak tim akan kehilangan ritme, namun Argentina justru meningkatkan tekanan.
Enzo Fernandez menyamakan kedudukan pada menit ke-85, lalu Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan di injury time. Reuters dan AP menyoroti bahwa kebangkitan tersebut mencerminkan ketahanan mental tim yang sudah terbentuk sejak menjadi juara dunia 2022.
Pelatih Lionel Scaloni juga menekankan pentingnya solidaritas dan kerja kolektif dalam perjalanan timnya.
Penguasaan Permainan di Momen Kritis
Data pertandingan semifinal menunjukkan Argentina mendominasi fase akhir laga. Setelah unggul 1-0, Inggris semakin bertahan, sementara Argentina terus menekan. The Guardian mencatat bahwa Inggris hanya memiliki sekitar 12 persen penguasaan bola dalam periode antara gol penyeimbang hingga gol kemenangan Argentina.
Dominasi territorial seperti ini menunjukkan bahwa Argentina mampu mengendalikan tempo ketika lawan mulai kehilangan keberanian untuk menyerang.
Pengalaman Turnamen yang Sangat Kaya
Banyak pemain inti Argentina sudah terbiasa bermain di laga besar: final Copa America, final Piala Dunia 2022, hingga pertandingan knockout level tertinggi. Pengalaman tersebut membantu mereka tetap tenang ketika pertandingan berjalan ketat.
Messi, Otamendi, De Paul, Mac Allister, hingga Lautaro sudah melewati berbagai tekanan turnamen internasional. Ketika laga memasuki menit-menit akhir, Argentina tampak lebih siap mengambil keputusan penting dibanding lawannya.
Argentina mencapai final Piala Dunia 2026 bukan karena satu faktor saja. Mereka memiliki serangan yang produktif, kedalaman skuad, pengalaman juara, dan kemampuan bangkit dalam situasi sulit.
Messi tetap menjadi figur sentral, tetapi perjalanan ini menunjukkan bahwa Argentina kini adalah tim yang lebih kolektif dibanding sekadar tim yang bergantung pada satu bintang.
Jika mampu mempertahankan intensitas dan efektivitas yang sama, Albiceleste memiliki peluang nyata untuk meraih gelar Piala Dunia kedua secara beruntun.(*)







