Jakarta, Lini Indonesia – Duel sarat gengsi antara Persija Jakarta dan Persib Bandung akhirnya menemukan “rumah” baru. Setelah melalui proses panjang dan penuh ketidakpastian, laga klasik ini dipastikan digelar di Stadion Segiri, Samarinda, pada Minggu (10/5/2026). Sebuah keputusan yang terasa pahit bagi banyak pihak, terutama suporter yang sudah lama merindukan atmosfer panas di Jakarta.
Harapan besar sempat membuncah ketika pertandingan dijadwalkan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Para Jakmania bersiap menyambut rival abadi mereka dengan penuh semangat. Namun, mimpi itu kembali harus tertunda—bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Sepekan jelang pertandingan, kabar simpang siur mulai beredar. Isu mengenai kondisi rumput GBK yang ingin dijaga untuk agenda PSSI pada FIFA Matchday Juni sempat menjadi sorotan.
Banyak yang menduga izin penggunaan stadion tidak diberikan. Namun, Sekjen PSSI, Yunus Nusi, dengan tegas membantah kabar tersebut dan memastikan bahwa GBK sebenarnya dalam kondisi siap digunakan.
“Silakan, tidak ada masalah GBK digunakan untuk menggelar pertandingan-pertandingan Super League, termasuk Persija vs Persib,” ujar Yunus Nusi dikutip dari cnn.
Situasi sempat memberi harapan. Hingga lima hari sebelum pertandingan, izin dari kepolisian dan PSSI masih berada di jalur yang aman. Tapi semuanya berubah drastis hanya sehari berselang. Pada H-4, pihak kepolisian resmi mencabut izin penyelenggaraan di GBK dengan alasan keamanan, mengingat padatnya agenda di Jakarta sepanjang bulan Mei.
Keputusan ini sontak membuat panitia dan operator liga berpacu dengan waktu. Direktur I.League, Ferry Paulus, mengungkapkan bahwa berbagai opsi langsung dipertimbangkan. Namun, situasi di kota metropolitan seperti Jakarta dinilai terlalu berisiko untuk menggelar pertandingan sebesar ini.
“Karena Jakarta merupakan kota metropolitan, kami telah mencoba mencari berbagai alternatif lokasi, termasuk di sejumlah stadion lain di Pulau Jawa. Namun, situasinya dinilai belum memungkinkan untuk menggelar pertandingan tersebut,” jelasnya.
Pencarian venue pun melebar. Surabaya sempat menjadi kandidat kuat karena akses dan fasilitasnya memadai. Bahkan dukungan dari Persebaya Surabaya dan kelompok suporter Bonek sudah tersedia. Sayangnya, ada satu kendala besar: pertandingan harus digelar tanpa penonton. Pilihan yang jelas tidak ideal untuk laga sebesar Persija vs Persib.
Alternatif lain seperti Bali juga sempat dipertimbangkan, namun berbenturan dengan jadwal pertandingan tim setempat. Satu per satu opsi gugur, membuat situasi semakin menegangkan.
Hingga akhirnya, harapan datang dari Kalimantan. Panitia Persija membuka komunikasi dengan Borneo FC untuk menggunakan Stadion Segiri. Respons positif langsung diberikan, termasuk dari pihak kepolisian setempat yang mengizinkan pertandingan digelar dengan kehadiran penonton.
Keputusan pun diambil. Samarinda resmi menjadi tuan rumah duel klasik ini, dengan jadwal kickoff tetap pukul 15.30 WIB.
Meski jauh dari Jakarta, setidaknya laga ini tetap bisa digelar dengan atmosfer yang layak. Namun, di balik semua itu, tersisa satu rasa yang sulit diabaikan—kerinduan akan duel Persija vs Persib yang kembali bergema di ibu kota, di hadapan ribuan suporter yang selama ini hanya bisa menunggu.(*)







