Jakarta, Lini Indonesia – Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa seluruh barang yang diberikan pejabat China kepada delegasi AS dibuang sebelum rombongan menaiki pesawat kepresidenan Air Force One.
Laporan tersebut pertama kali diungkap jurnalis New York Post, Emily Goodin, yang mengikuti kunjungan kenegaraan itu. Ia menyebut staf Amerika mengumpulkan berbagai perlengkapan yang sebelumnya dibagikan pihak China kepada rombongan dan awak media sebelum seluruhnya dibuang ke tempat sampah di area bandara.
“Staf Amerika mengambil semua barang yang dibagikan oleh pejabat China – kartu identitas, telepon genggam sekali pakai dari staf Gedung Putih, lencana delegasi – mengumpulkannya sebelum kami naik AF1 (Air Force One) dan membuangnya ke tempat sampah di bawah tangga,” tulis Goodin di X.
Barang-barang yang dimaksud disebut meliputi kartu identitas, lencana delegasi, hingga telepon genggam sekali pakai yang digunakan staf Gedung Putih selama kunjungan berlangsung. Menurut Goodin, tidak ada benda asal China yang diizinkan ikut dibawa ke dalam Air Force One.
Melalui unggahan di media sosial X, Goodin menjelaskan proses pembuangan dilakukan sesaat sebelum rombongan Presiden AS meninggalkan China menuju Washington. Langkah tersebut langsung memicu perhatian publik dan memunculkan berbagai spekulasi terkait alasan keamanan di balik keputusan itu.
Di sisi lain, kunjungan Trump ke China juga diwarnai pertemuan tertutup dengan Presiden China Xi Jinping di kompleks Zhongnanhai. Kedua pemimpin diketahui menghabiskan waktu bersama dalam suasana santai sambil berjalan di area taman yang dipenuhi pepohonan tua dan bunga mawar khas China.
Trump dan Xi kemudian melanjutkan pembicaraan sambil menikmati teh serta makan siang bersama para ajudan dan penerjemah utama masing-masing. Pertemuan itu berlangsung hampir tiga jam sebelum Trump bertolak kembali ke Amerika Serikat.
Usai pertemuan, Trump menyebut rangkaian lawatannya ke China sebagai pengalaman yang luar biasa. Namun di balik suasana hangat tersebut, isu Taiwan tetap menjadi topik sensitif dalam pembicaraan kedua negara.
Menurut pejabat pemerintah China, Xi Jinping mengingatkan bahwa persoalan Taiwan dapat memicu konflik serius apabila tidak ditangani secara hati-hati oleh kedua pihak. Pernyataan itu disebut disampaikan langsung dalam percakapan pribadi dengan Trump.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan kebijakan Washington terhadap Taiwan tidak mengalami perubahan. Ia juga memperingatkan bahwa upaya merebut Taiwan dengan kekuatan militer akan menjadi langkah yang sangat berbahaya bagi China.(*)







