Jakarta, Lini Indonesia – Bagi sebagian orang, konser musik adalah tempat untuk melepas penat. Ribuan orang berkumpul, bernyanyi bersama, menikmati penampilan musisi favorit, hingga larut dalam suasana festival.
Namun, di tengah kerumunan tersebut, ada sisi lain yang kerap membuat pengunjung waspada. Ponsel yang disimpan di saku, dompet yang berada di tas, hingga barang berharga lainnya bisa menjadi sasaran pencopet yang memanfaatkan kepadatan penonton.
Realitas itulah yang kemudian diangkat menjadi premis utama film Operasi Pesta Copet, yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada Kamis (27/8/2026).
Alih-alih menjadikan pencopetan sebagai sekadar aksi kriminal, film garapan Edy Khemod tersebut menempatkan aktivitas itu di tengah riuhnya festival musik. Kerumunan penonton yang biasanya menjadi bagian dari kemeriahan konser justru berubah menjadi ruang bagi para pencopet untuk menjalankan aksinya.
Ide tersebut bukan muncul tanpa alasan. Edy Khemod, yang dikenal sebagai drummer band Seringai, mengaku pernah bersinggungan dengan fenomena pencopetan ketika tampil bersama band-nya.
Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan tentang sekelompok pencopet yang memanfaatkan festival musik sebagai lokasi operasi.
Dalam salah satu cerita yang melatarbelakangi film, komplotan pencopet bahkan disebut mempersiapkan aksinya dengan serius, mulai dari menghafalkan lagu hingga menggunakan atribut band agar dapat membaur dengan penonton.
Dari keresahan tersebut lahirlah Operasi Pesta Copet, sebuah film yang menggabungkan kriminal, komedi, drama sosial, dan persahabatan. Film ini menjadi debut Edy Khemod sebagai sutradara film panjang. Ia juga menulis skenario bersama Rino Sarjono.
Menariknya, festival musik dalam film ini bukan sekadar latar belakang. Tim produksi mengambil gambar di tengah penyelenggaraan Pestapora sehingga suasana kerumunan penonton yang terlihat di layar terasa lebih nyata.
Menurut laporan ANTARA, proses produksi dilakukan di tengah persiapan festival musik Pestapora. Sementara itu, sejumlah laporan mengenai proses syuting menyebut para pemain harus berakting di tengah kerumunan penonton sungguhan.
Hal tersebut membuat festival musik memiliki dua wajah dalam film. Di satu sisi, Pestapora menjadi ruang bagi orang-orang untuk menikmati musik dan bersenang-senang. Di sisi lain, kepadatan penonton justru menciptakan peluang bagi kelompok yang datang dengan tujuan berbeda.
Di tengah situasi tersebut, penonton diajak melihat festival bukan hanya dari perspektif orang yang sedang menikmati konser, tetapi juga dari sudut pandang orang-orang yang menjadikan kerumunan itu sebagai kesempatan untuk melakukan kejahatan.
Ketika Masalah Ekonomi Membawa Ijal ke Dunia Copet
Cerita film berpusat pada Ijal yang diperankan Iqbaal Ramadhan. Kehidupan Ijal berubah setelah dirinya kehilangan pekerjaan akibat PHK.
Situasi ekonominya semakin sulit karena sang ibu juga terlilit utang. Berbagai pekerjaan serabutan kemudian dijalani Ijal bersama sahabatnya, Adut yang diperankan Kristo Immanuel. Namun, penghasilan yang mereka dapatkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam kondisi terdesak, Ijal kemudian masuk ke dunia pencopetan. Bersama Adut, Tia yang diperankan Zulfa Maharani, dan Melodi yang dimainkan Kawai Labiba, ia mulai menyusun rencana untuk melakukan pencopetan di tengah festival musik Pestapora.
Melodi memiliki pengetahuan mengenai skena musik dan ikut membantu kelompok tersebut memahami situasi di lingkungan festival. Rencana mereka kemudian berkembang menjadi sebuah operasi pencopetan yang dilakukan secara terorganisir.
Targetnya bukan lagi satu atau dua orang, melainkan para pengunjung festival yang larut dalam keramaian.
Di sinilah film mulai memperlihatkan bagaimana sebuah aktivitas yang terlihat sederhana dapat berubah menjadi operasi yang membutuhkan pembagian peran, perhitungan situasi, hingga keberanian mengambil risiko.
Namun, Operasi Pesta Copet tidak hanya menjadikan aksi pencopetan sebagai bahan komedi. Di balik kelakuan nekat para karakternya, terdapat persoalan ekonomi yang menjadi pendorong utama.
Ijal bukan digambarkan sebagai seseorang yang sejak awal bercita-cita menjadi pencopet. Kehilangan pekerjaan, kebutuhan hidup, serta persoalan keluarga membuatnya berada dalam situasi yang semakin terdesak.
Pendekatan tersebut membuat pencopetan dalam film memiliki konteks sosial. Penonton tidak hanya diajak melihat bagaimana para karakter melakukan aksinya, tetapi juga memahami kondisi yang membawa mereka sampai mengambil pilihan tersebut.
Pada akhirnya, Operasi Pesta Copet mencoba melihat festival musik dari sudut yang berbeda. Di balik lampu panggung, musik yang menggelegar, dan ribuan orang yang menikmati pertunjukan, terdapat sisi lain yang jarang menjadi perhatian.
Bagi penonton, kerumunan mungkin berarti kesempatan untuk menikmati konser bersama orang lain. Tetapi bagi pencopet, kerumunan yang sama bisa menjadi tempat untuk mencari celah.
Film ini pun menjadikan realitas tersebut sebagai bahan cerita sekaligus pintu masuk untuk membahas persoalan yang lebih luas: tekanan ekonomi, persahabatan, pekerjaan, dan pilihan hidup ketika seseorang berada dalam kondisi terdesak.
Operasi Pesta Copet tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Film ini dibintangi Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, serta sejumlah pemeran lainnya.(*)







