Jakarta, Lini Indonesia – Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadapi tantangan yang tidak terduga. Meski menjadi edisi terbesar dalam sejarah turnamen, sejumlah laporan menunjukkan minat penonton tidak setinggi yang diperkirakan.
Kondisi tersebut terlihat dari masih banyaknya tiket pertandingan yang belum terjual. Permintaan tiket sejauh ini lebih banyak terkonsentrasi pada pertandingan yang melibatkan negara tuan rumah.
“Seluruh blok tribun Ekaterinburg Arena terlihat kosong dalam siaran televisi, dan FIFA mengkonfirmasi bahwa sekitar 5.000 kursi tidak terisi,” muat Newsweek.
Selain penjualan tiket, sektor perhotelan di sejumlah kota penyelenggara juga belum merasakan lonjakan permintaan yang biasanya terjadi menjelang ajang olahraga terbesar dunia tersebut. Banyak hotel melaporkan tingkat reservasi masih berada di bawah target yang telah ditetapkan.
Sejumlah pengamat menilai isu politik hingga tingginya biaya perjalanan menjadi salah satu faktor yang membuat suporter menunda atau bahkan membatalkan rencana menyaksikan pertandingan secara langsung.
Situasi ini diperparah oleh format baru Piala Dunia yang melibatkan 48 negara peserta dan menghadirkan total 104 pertandingan, jumlah terbanyak sepanjang sejarah turnamen.
“Isu geopolitik yang tentu saja membuat orang lebih waspada untuk bepergian ke AS dan menghabiskan uang di AS,” jelas Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University, Mike Edwards, dikutip Al Jazeera.
Fenomena stadion yang tidak terisi penuh sebenarnya bukan hal baru dalam penyelenggaraan Piala Dunia. Pada edisi 2010 di Afrika Selatan, meskipun total penonton mencapai hampir 3,2 juta orang sepanjang turnamen, beberapa pertandingan fase grup tetap menampilkan banyak kursi kosong.
Kondisi serupa juga terjadi pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Saat itu, harga tiket yang dinilai terlalu mahal bagi sebagian masyarakat lokal disebut menjadi salah satu penyebab rendahnya tingkat keterisian stadion pada sejumlah laga. FIFA kala itu menyatakan banyak tiket telah terjual, namun pemiliknya tidak hadir atau tidak menjual kembali tiket yang tidak digunakan.
Masalah tersebut kembali menjadi sorotan pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Salah satu contohnya terlihat saat pertandingan Uruguay melawan Mesir, ketika ribuan kursi di stadion tampak kosong meskipun tiket telah dialokasikan. FIFA mengakui jumlah penonton yang hadir lebih rendah dibanding kapasitas yang tersedia.
Selain persoalan harga, faktor politik dan kebijakan pemerintah Amerika Serikat juga dinilai ikut memengaruhi minat wisatawan internasional untuk datang ke Piala Dunia 2026. Sejumlah analis menilai situasi geopolitik global membuat sebagian calon penonton lebih berhati-hati dalam merencanakan perjalanan ke AS.
Kebijakan imigrasi yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump turut disebut sebagai faktor yang menimbulkan kekhawatiran bagi wisatawan asing. Beberapa organisasi hak sipil bahkan sempat mengeluarkan peringatan bagi warga negara lain yang berencana bepergian ke Amerika Serikat untuk menghadiri turnamen tersebut.
Di samping itu, ketidakpastian terkait proses visa dan laporan keterlambatan penerbitan dokumen perjalanan menjadi hambatan tambahan bagi suporter dari luar negeri. Akibatnya, jumlah wisatawan internasional yang biasanya menjadi motor penggerak ekonomi selama turnamen berlangsung berpotensi lebih rendah dibanding perkiraan awal.
Tekanan ekonomi di dalam negeri Amerika Serikat juga menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan harga bahan bakar dan meningkatnya biaya hidup membuat sebagian masyarakat memilih menekan pengeluaran untuk perjalanan maupun hiburan.
Dampaknya mulai dirasakan industri perhotelan. Survei American Hotel and Lodging Association menunjukkan sebagian besar hotel di kota-kota tuan rumah belum mencapai tingkat pemesanan yang diharapkan. Sejumlah responden bahkan menyebut persoalan visa dan ketidakpastian kondisi global sebagai penyebab utama rendahnya permintaan kamar.
Di New York, yang akan menjadi tuan rumah partai final, tingkat pemesanan hotel masih berada di bawah target yang ditetapkan. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Seattle, di mana pemesanan kamar belum mampu menyamai tren musim panas pada tahun-tahun sebelumnya.
Penyelenggara kini berharap minat penonton akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan agar stadion dan sektor pariwisata dapat merasakan dampak ekonomi maksimal dari ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut.(*)







