Jakarta, Lini Indonesia – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih menjadi perhatian pemerintah. Pemantauan terbaru menunjukkan ribuan titik panas tersebar di sejumlah wilayah di pulau tersebut.
Data Satelit NOAA-20 yang dihimpun hingga Kamis (20/8/2026) mencatat 1.487 hotspot di Kalimantan. Persebaran titik panas tersebut terdapat di lima provinsi, dengan jumlah terbanyak berada di Kalimantan Tengah.
Kalimantan Tengah menyumbang 767 titik panas atau menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi. Setelahnya, Kalimantan Barat berada di posisi berikutnya dengan 560 titik panas.
Sementara itu, masing-masing 74 hotspot terpantau di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Adapun Kalimantan Utara memiliki jumlah titik panas paling sedikit, yakni 3 hotspot.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan data tersebut merupakan hasil pemantauan terbaru menggunakan Satelit NOAA-20.
“Berdasarkan data pemantauan terbaru dari Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8/2026), sebaran hotspot di wilayah Kalimantan sebanyak 1.487 hotspot,” ujar Berton dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Munculnya hotspot dalam jumlah besar membuat pemerintah memperkuat langkah antisipasi. BNPB bersama pemerintah daerah terus memantau perkembangan titik panas sekaligus mengidentifikasi kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran.
Koordinasi antarlembaga juga dilakukan untuk menentukan tindakan yang diperlukan berdasarkan situasi di masing-masing daerah. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah kebakaran berkembang dan meluas ke wilayah lainnya.
“BNPB bersama pemerintah daerah melakukan pemantauan perkembangan titik panas, pemetaan wilayah rawan, serta koordinasi untuk menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi di lapangan,” kata Berton.
Kondisi musim kemarau turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi, termasuk karhutla. Karena itu, BNPB meminta pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan penanganan ketika api sudah muncul, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan dan sistem deteksi dini.
Ketersediaan peralatan serta sarana pendukung pemadaman juga diminta untuk dipastikan. Dengan kesiapan tersebut, titik api yang terdeteksi diharapkan dapat segera ditangani sebelum berubah menjadi kebakaran yang lebih besar.
Masyarakat pun diminta ikut berperan dalam mencegah karhutla. BNPB mengingatkan agar warga tidak melakukan pembakaran di area yang rawan terbakar, terutama ketika kondisi lahan sedang kering.
Jika menemukan adanya kebakaran, masyarakat diminta segera melapor kepada pihak berwenang di daerah masing-masing. Pelaporan lebih awal dinilai dapat mempercepat proses penanganan sekaligus mengurangi risiko api menyebar lebih luas.(*)







