Bencana Dahsyat Nepal-Tibet: Ratusan Orang Tewas dan Masih Hilang

Bencana Dahsyat Nepal-Tibet: Ratusan Orang Tewas dan Masih Hilang. foto: ist

Jakarta, Lini Indonesia – Bencana besar melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet. Tanah longsor yang kemudian disusul banjir bandang menyebabkan kerusakan luas. Hingga kini, otoritas Nepal melaporkan 165 orang meninggal dunia, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.

Di tengah proses pencarian korban, penyebab bencana tersebut masih diteliti. Sempat muncul dugaan bahwa gempa bumi menjadi pemicu longsor setelah getaran kuat tercatat di kawasan perbatasan.

“Rasa sakit dan kehilangan yang Anda alami tidaklah kecil. Saya ingin meyakinkan bahwa Anda tidak sendirian di masa sulit ini, negara hadir bersamamu dengan segala daya dan sumber daya yang ada” ujar Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, dalam sebuah pernyataan di media sosial.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal sebelumnya menyebut adanya laporan gempa yang terjadi sesaat sebelum tanah longsor. US Geological Survey (USGS) juga sempat mencatat getaran bermagnitudo 4,4 di wilayah perbatasan Nepal-China sekitar pukul 08.37 waktu setempat.

Pada waktu yang hampir bersamaan, material berupa bongkahan es dan batu meluncur deras dari lereng gunung menuju Sungai Lhende Khola. Sungai tersebut merupakan anak Sungai Bhote Koshi yang mengalir dari China menuju Nepal.

Namun, USGS kemudian mengklarifikasi bahwa getaran yang tercatat bukan berasal dari gempa bumi. Getaran tersebut diduga merupakan dampak dari longsor besar yang terjadi di kawasan pegunungan.

Getaran akibat longsor itu diperkirakan memiliki kekuatan setara gempa bermagnitudo 5,2. Para ilmuwan menduga bongkahan gletser berukuran besar terlepas dari gunung dan jatuh ke lembah sehingga menghasilkan getaran kuat.

Dengan demikian, gempa bumi kemungkinan bukan penyebab tanah longsor. Justru longsoran besar tersebut yang menghasilkan getaran menyerupai gempa bumi.

Sementara itu, penyebab pasti derasnya aliran banjir yang menerjang wilayah Nepal dan Tibet masih dalam penyelidikan. Para ilmuwan turut mempertimbangkan faktor perubahan iklim yang dapat meningkatkan risiko bencana di kawasan pegunungan.

Pemanasan global dapat mempercepat pencairan gletser dan membuat lereng gunung menjadi semakin tidak stabil. Air hasil pencairan juga dapat memenuhi danau-danau glasial di dataran tinggi. Jika volumenya meningkat secara drastis, air tersebut berpotensi meluap dan mengalir deras ke wilayah yang lebih rendah.

Curah hujan ekstrem juga menjadi faktor yang sedang dianalisis. Perubahan iklim diketahui dapat meningkatkan intensitas hujan sehingga memperbesar ancaman banjir dan longsor di wilayah yang sudah rentan terhadap bencana.

Untuk mengetahui penyebab sebenarnya, tim ilmuwan kini memeriksa citra satelit dan berbagai data lainnya. Mereka berusaha menemukan lokasi pasti longsoran, mengecek kemungkinan jebolnya danau glasial, serta melihat apakah material longsor sempat membendung aliran sungai.

Data curah hujan terbaru juga diperiksa untuk mengetahui kemungkinan kontribusinya terhadap banjir bandang yang terjadi.

Di sisi lain, proses pencarian korban masih terus berlangsung. Hingga saat ini, 165 orang telah ditemukan meninggal dunia dan ratusan lainnya masih belum diketahui keberadaannya.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *