Jakarta, Lini Indonesia – Tim SAR gabungan mengerahkan lima kapal untuk mencari delapan orang yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Operasi pencarian pada hari kedua mencakup area sekitar 271 nautical mile (NM) atau setara dengan kurang lebih 502 kilometer.
Lima kapal yang terlibat dalam operasi tersebut terdiri dari KN SAR Tetuka, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, KAL Anyer, serta KP Sanjaya 7016 milik Polairud Mabes Polri. Masing-masing armada ditempatkan di sektor pencarian yang telah ditentukan berdasarkan hasil SAR Mission Planning (SARMEP).
Kasi Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, mengatakan hasil pemetaan operasi mengarahkan tim untuk memperluas pencarian ke wilayah barat daya dari Gunung Anak Krakatau.
“Area pencarian dibagi ke beberapa sektor dengan total sekitar 271 NM. KN SAR Tetuka dan KAL Anyer melakukan penyisiran di sektor masing-masing, sementara RIB 02 Banten difokuskan di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang,” ujar Rizky di Posko Gabungan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Rabu (9/9/2026) dilansir detik.
Salah satu armada, RIB 02 Basarnas, telah melakukan penyisiran di sejumlah pulau yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau. Tim menyasar Pulau Rakata, Pulau Krakatoa, dan Pulau Panjang.
Namun, hingga kapal kembali ke posko pada Rabu sore, petugas belum menemukan tanda-tanda keberadaan delapan orang yang dicari, termasuk speedboat yang digunakan rombongan.
Anggota tim SAR gabungan dari RIB 02, Ahmad Taufiq, mengatakan penyisiran dilakukan di sekitar pulau-pulau tersebut sebagai bagian dari upaya menemukan para korban.
“Tim menyasar Pulau Rakata dan Pulau Panjang, Krakatoa,” kata Taufiq.
Proses pencarian berlangsung dalam kondisi perairan Selat Sunda yang masih terdampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Abu tersebut dilaporkan masih cukup tebal di sejumlah bagian perairan.
Untuk mengurangi paparan abu vulkanik, awak RIB 02 menyesuaikan jalur pelayaran dengan arah angin. Cara tersebut dilakukan agar kapal tidak langsung berhadapan dengan kepulan abu yang terbawa angin.
“Abu vulkanik masih tebal di perairan Selat Sunda. Namun kapal melaju mengiringi arah angin, jadi tidak kena abu vulkanik,” ujar Ahmad.
Tiga pulau yang menjadi sasaran penyisiran berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau dan masuk dalam batas radius tiga kilometer dari kawah. Area tersebut merupakan zona berbahaya yang tidak diperbolehkan untuk dilalui masyarakat ketika Gunung Anak Krakatau berada pada status Level III atau Siaga.
Pencarian dilakukan setelah lima jurnalis dan tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak ketika berada di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan erupsi.
Kelima jurnalis tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis freelance.
Sementara tiga orang lainnya merupakan awak kapal, yakni Warta sebagai kapten, Sukarman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Pada pencarian hari pertama, tim SAR telah menyisir sejumlah titik di perairan sekitar Pulau Krakatau dan Pulau Panjang. Namun, operasi tersebut belum membuahkan hasil dan belum ditemukan petunjuk mengenai keberadaan rombongan maupun speedboat yang mereka gunakan.
Basarnas kemudian memperluas sektor pencarian berdasarkan hasil perencanaan operasi SAR. Tim gabungan berharap perluasan area penyisiran dengan melibatkan lima kapal dapat meningkatkan peluang menemukan seluruh korban.(*)







