Jakarta, Lini Indonesia – Hujan deras yang mengguyur Nagoya, Jepang, menyebabkan sejumlah wilayah dilanda banjir dan memunculkan peringatan darurat bagi warga maupun pendatang di kawasan tersebut.
Kondisi cuaca ekstrem itu turut dirasakan rombongan tim basket putra Indonesia yang baru tiba untuk mengikuti Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Belum lama beristirahat setelah perjalanan panjang, para atlet Indonesia harus meninggalkan tempat mereka menginap menyusul munculnya peringatan darurat. Sirene yang berbunyi menjadi tanda agar para atlet segera melakukan evakuasi ke lokasi yang dinilai lebih aman.
Sekretaris Jenderal Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi), Nirmala Dewi, membenarkan bahwa rombongan tim basket putra Indonesia sempat diminta keluar dari tempat istirahat mereka.
Menurut Nirmala, situasi tersebut terjadi tidak lama setelah para pemain tiba di Nagoya. Mereka baru saja memiliki waktu untuk beristirahat ketika peringatan darurat berbunyi dan mengharuskan rombongan kembali bergerak.
“Sampai sana mereka menerima peringatan darurat harus keluar, jadi baru istirahat sebentar harus keluar lagi karena ada sirene,” ujar Nirmala dikutip ANTARA.
Kondisi yang dialami tim basket putra Indonesia juga terlihat melalui unggahan akun resmi Tim Indonesia di media sosial. Dalam video tersebut, pebasket Derrick Michael memperlihatkan suasana ketika para atlet harus melakukan evakuasi akibat peringatan bencana di Nagoya.
Derrick mengungkapkan, peringatan tersebut datang sekitar dua jam setelah rombongan tiba di Jepang. Padahal, perjalanan menuju Nagoya sudah cukup melelahkan karena tim harus menempuh perjalanan sekitar 40 jam dari Jakarta.
Lamanya perjalanan tersebut tidak lepas dari perubahan rute penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Rencana keberangkatan tim yang sebelumnya dipersiapkan secara bersama-sama dari Jakarta akhirnya harus mengalami perubahan.
Nirmala menjelaskan, rombongan terlebih dahulu bergerak menuju Surabaya. Dari kota tersebut, perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan menuju Singapura sebelum akhirnya bertolak ke Jepang.
“Sebetulnya kita juga tidak menyangka ada kejadian seperti ini. Karena kita lebih mempersiapkan berangkat bersama-sama dari Soekarno-Hatta. Jadi untuk anak-anak juga menjadi ekstra persiapan karena harus berangkat dulu ke Surabaya,” kata Nirmala.
Setelah melewati perjalanan panjang dan beberapa kali perpindahan rute, para pemain akhirnya tiba di Nagoya. Namun, mereka kembali harus menghadapi kondisi tidak terduga berupa hujan deras, banjir, dan peringatan darurat.
Meski demikian, Perbasi berharap berbagai kendala tersebut tidak mengganggu persiapan tim basket putra Indonesia. Rombongan memang diberangkatkan lebih awal ke Jepang agar para pemain memiliki waktu untuk beradaptasi sebelum menjalani pertandingan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Tim diharapkan dapat segera memulihkan kondisi setelah perjalanan panjang serta menyesuaikan diri dengan cuaca dan situasi di Nagoya. Dengan demikian, fokus persiapan menuju pertandingan tetap dapat berjalan sesuai rencana.(*)







