Jakarta, Lini Indonesia – Di tengah keterbatasan fasilitas dan ancaman banjir rob yang datang secara berkala, semangat belajar siswa SD Negeri 2 Sawohan di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, tetap menyala. Sekolah yang berada di kawasan pesisir terpencil itu masih berjuang memberikan pendidikan terbaik meski kondisi bangunannya kian memprihatinkan.
Sekolah tersebut hanya memiliki tiga ruang kelas untuk enam jenjang pendidikan. Akibatnya, dua tingkat kelas harus belajar dalam satu ruangan secara bersamaan. Di balik keterbatasan itu, para guru dituntut bekerja lebih keras agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif.
Tak hanya kekurangan ruang belajar, bangunan sekolah juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan di sejumlah bagian. Dinding yang mulai rapuh memunculkan kekhawatiran tersendiri karena berpotensi membahayakan keselamatan guru maupun siswa yang setiap hari beraktivitas di dalamnya.
Cobaan tidak berhenti di situ. Sekitar dua kali setiap bulan, banjir rob datang menerjang kawasan sekolah. Air laut menggenangi halaman hingga masuk ke ruang kelas, memaksa kegiatan belajar terganggu dan meninggalkan pekerjaan tambahan bagi seluruh warga sekolah.
Guru kelas 5 SD Negeri 2 Sawohan, Ahmad Fadhli, mengatakan perjuangan mengajar di sekolah tersebut dimulai bahkan sebelum proses belajar berlangsung. Untuk mencapai lokasi sekolah, para guru harus menyeberang menggunakan perahu.
“Kalau berangkat dan pulang harus menyeberang naik perahu. Selalu ada kekhawatiran soal keselamatan, apalagi saat cuaca kurang bersahabat,” ujar Ahmad Fadhli, Kamis (16/7/2026) dikutip detik.
Menurut Ahmad, setiap kali banjir rob datang, air akan masuk hingga ke dalam ruang kelas. Setelah genangan surut, guru dan warga sekolah bergotong royong membersihkan lumpur serta mengepel ruangan agar esok harinya anak-anak bisa kembali belajar.
“Rob biasanya datang sekitar dua kali dalam sebulan. Air masuk ke dalam kelas, jadi setelah surut kami bersama-sama kerja bakti membersihkan dan mengepel ruangan agar bisa dipakai belajar lagi,” katanya.
Keterbatasan jumlah ruang kelas membuat sekolah menerapkan sistem kelas ganda. Kelas 1 digabung dengan kelas 2, kelas 3 bersama kelas 4, sementara kelas 5 belajar berdampingan dengan kelas 6. Dalam satu ruangan, guru harus bergantian menyampaikan materi agar suara tidak saling bertabrakan dan mengganggu konsentrasi para siswa.
Meski harus belajar di tengah bangunan yang menua dan fasilitas yang minim, semangat anak-anak tak pernah surut. Mereka tetap datang ke sekolah dengan antusias, mengikuti pelajaran, dan menyimpan harapan yang sama seperti anak-anak di daerah lain: memperoleh pendidikan yang layak.
Bagi Ahmad dan rekan-rekan guru, antusiasme para siswa menjadi alasan terbesar untuk terus mengabdi. Mereka percaya keterbatasan bukan alasan untuk menghentikan mimpi anak-anak di wilayah terpencil tersebut.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SD Negeri 2 Sawohan menerima empat peserta didik baru, terdiri atas dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Kini, total siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut mencapai 27 orang, dengan rincian empat siswa di kelas 1, masing-masing lima siswa di kelas 2 hingga kelas 5, serta tiga siswa di kelas 6.
Di balik jumlah siswa yang tidak banyak, tersimpan harapan besar agar sekolah ini segera mendapat perhatian. Ahmad berharap pemerintah segera melakukan pemeriksaan sekaligus merehabilitasi bangunan sekolah sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman dan nyaman.
“Harapan kami bangunan sekolah segera direhab dan diperbaiki. Yang paling penting adalah keselamatan anak-anak saat belajar. Kami ingin mereka bisa belajar dengan nyaman tanpa khawatir ada bagian bangunan yang roboh,” pungkasnya.(*)







