Jakarta, Lini Indonesia – Iran menuding Israel berada di balik serangan drone yang menghantam kilang minyak milik perusahaan energi Arab Saudi, Saudi Aramco. Teheran bahkan menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari operasi “False Flag” yang sengaja dilakukan untuk memicu konflik lebih luas di kawasan.
Menurut laporan kantor berita Iran, Tasnim, seorang pejabat militer Iran yang tidak disebutkan namanya mengatakan serangan tersebut diduga dilakukan Israel dengan tujuan mengalihkan perhatian negara-negara di Timur Tengah dari serangan terhadap lokasi-lokasi sipil di Iran.
“Serangan ke Aramco merupakan operasi ‘false flag’ Israel. Tujuannya adalah untuk mengalihkan negara-negara kawasan dari kejahatan mereka menyerang lokasi-lokasi sipil di Iran,” ujar pejabat militer Iran.
Pejabat tersebut menegaskan bahwa Iran selama ini secara terbuka menyatakan akan menargetkan kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan. Namun, fasilitas minyak milik Saudi Aramco tidak pernah termasuk dalam daftar target militer Iran.
Ia juga menambahkan bahwa Iran telah melancarkan sejumlah serangan terhadap kepentingan AS dan Israel di kawasan, tetapi tidak pernah menargetkan instalasi energi milik Arab Saudi.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Revanchi, turut membantah tuduhan bahwa negaranya berada di balik serangan tersebut. Dalam pernyataannya kepada media internasional, ia menegaskan Iran tidak bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi.
Takht-Revanchi mengatakan pihaknya bahkan telah berkomunikasi langsung dengan pemerintah Arab Saudi untuk membahas insiden tersebut dan menegaskan bahwa fasilitas minyak di negara-negara Timur Tengah bukan merupakan target militer Iran.
“Fasilitas Aramco belum termasuk di antara target serangan Iran sejauh ini,” kata sumber tersebut kepada Tasnim, dikutip dari Middle East Monitor.
Adapun kilang minyak yang diserang berada di Ras Tanura, wilayah pesisir timur Arab Saudi di Teluk Persia. Lokasi ini dikenal sebagai salah satu pusat penyulingan sekaligus terminal ekspor minyak terbesar milik kerajaan Saudi.(*)







